Sabtu, 19 Oktober 2019

Selang Januari-Agustus, 142 Warga Minsel Positif Malaria

AMURANG, (manadoterkini.com) – Masyarakat wajib waspada terkait penularan Malaria di Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel). Pasalnya, data Dinas Kesehatan menunjukan dari Januari sampai Agustus, sudah 142 warga yang dinyatakan positif mengidap Malaria. Dimana Desa Ranoketang Tua yang paling bayak menyumbang penderita sebanyak 68 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Minsel dr Terny Paruntu melalui Kabid Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Minsel Marce Pontoh kepada wartawan menjelaskan jika semua penderita itu telah diberi pengobatan sesuai kriteria untuk penanggulangan malaria.

Menurutnya, masyarakat harus memperhatikan kebersihan lingkungan agar nyamuk malaria tidak bersarang disekitar tempat tinggal.”Data tersebut yang behasil dikumpulkan personil Dinkes Minsel bekerja sama dengan pihak RS dan Puskesmas. Begitu kami menerima laporan kasus, tim khusus dari Dinkes langsung terjun ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut,” ujar Pontoh.

Ia mejelaskan jika dalam waktu-waktu tertentu personil Dinkes turun ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan pemukiman masyarakat.”Penyemprotan selalu kami jadwalkan. Jika ada tempat yang mencurigakan terkait sarang nyamuk, akan disemprot. Tapi, jika dilakukan penyemprotan, yang mati itu hannya nyamuknya sedangkan jentik-jentik tidak. Jadi kesadaran dari masyarakat memperhatikan lingkungan sangat berperan besar dalam penanggulangan Malaria,”jelasnya.

Dia juga menambahkan jika di daerah ini yang paling banyak adalah nyamuk Malaria Tersiana.”Bila diserang oleh nyamuk Malaria Tersiana, biasanya penderita mengalami gangguan suhu badan yang naik turun. Adakalanya pagi hari merasa sehat, tapi sorenya demam. HB menurun hingga menyebabkan daya tahan tubuh lemah dan malas beraktifitas. Jika menemui gejala seperti itu, langsung memeriksakan diri ke puskesmas terdekat,” tegas Paruntu sembari menambahkan kalau yang paling bahaya adalah Malaria Tropika karena penyakit itu menyebabkan kompikasi di bagian otak sehingga tidak sedikit yang meninggal akibat mengidap penyakit tersebut.

”Penyakit-penyakit tersebut bila cepat ditanggulangi, bisa disembuhkan asalkan tidak terlambat dideteksi. Sebab itu, masyarakat harus mempercayakan kesehatannya pada pengobatan medis bukan pada pengobatan lainnya. Adakalanya masyarakat sudah mengunjungi pengobatan alternatif terlebih dahulu kemudian tidak sembuh baru datang di puskesmas atau rumah sakit,” jelasnya lagi, sembari menambahkan jika hal-hal seperti itu yang sering membuat penyakit terlambat diobati dan efeknya sudah parah sehingga butuh waktu lama untuk proses pengobatan.(dav)

Tags: , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*