Minggu, 8 Desember 2019

Sindulang Kembali Tegang, Wartawan Pun Dianiaya

AJI Minta Wartawan Lebih Berhati-Hati

manado

Nino Tumakaka. (ist)

MANADO, (manadoterkini.com) – Perkelahian Antar Kampung (Tarkam) dengan menggunakan panah wayer di Kelurahan Sindulang Kecamatan Tuminting kembali pecah. Kali ini menimpa wartawan surat kabar Harian Komentar Revalino Tumakaka alias Nino yang hendak menghadiri pesta ulang tahun di rumah pamannya di lingkungan II, Jumat (3/10) dinihari. Nino panggilan akhirnya harus dilarikan ke rumah sakit dan mendapat sebanyak jahitan 14 benang jahitan.

Kejadian yang terjadi dini hari, tersebut semakin tegang massa Lorong Lumba-lumba, balik menyerang barikade patroli gabungan dan mengakibatkan anggota Patroli Rayon plug ā€œCā€ Polresta Manado Bripda Rio Adipura Djusuna (22) terkena anak panah wayer di bagian depan rompi yang ia pakai. Polisi pun harus melepas tembakan kepada Andreas Runtuwene (21), warga Kelurahan Sindulang Dua Lingkungan II Kecamatan Tuminting mengalami luka tembak di paha kiri belakang, saat tawuran berlangsung.

Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, berawal pada malam yang sama sekitar pukul. 22.00 WITA berlangsung ibadah ulang tahun AKBP Robby Silangen di Kelurahan Sindulang Dua Lingkungan II dan dilanjutkan dengan hiburan musik dari para tamu dan keluarga. Sekitar pukul 00.15 WITA, tim Peleton Siaga Polresta Manado dibawah pimpinan Ipda J Lengkong menghimbau keluarga untuk menghentikan acara dikarenakan sudah mulai terdengar bunyi lemparan batu di sekitaran lokasi acara. Pukul 01.45 WITA, acara dihentikan, tapi terdengar suara petasan (mercon) dan kembang api dari arah lorong tengah (perbatasan lingkungan II dan III) yang disertai dengan aksi saling lempar dari dua lingkungan itu. Pukul 02.00 WITA, pihak Polresta Manado dibantu oleh anggota TNI dan Pol-PP yang tergabung dalam Patroli Gabungan Sistem Keamanan Terpadu Kota Manado berusaha melerai aksi saling lempar tersebut dengan berusaha membentuk barikade di TKP, dengan maksud menghentikan bentrok dan menghalau massa.

Kejadian itu pun membuat pihak kepolisian kemudian mengeluarkan tembakan peringatan untuk membubarkan kelompok massa yang sudah anarkis dan tidak terkontrol. 1 warga, Andreas Runtuwene dan Nino Tumakaka, dibawa ke RS Wolter Monginsidi Teling dan RSI Sitti Maryam Tuminting karena menderita luka tembak dan lemparan batu.

Nino, ketika dikonfirmasi, mengaku pasrah dengan kejadian yang menimpanya, dan tidak akan melaporkan apa yang menimpanya ke pihak polisi.”Ya biarlah, saya mau melapor buat apa karena massa yang melempari dengan batu, saya tidak kenal,”tutur Nino, yang kini belum bisa kembali beraktivitas karena dalam kondisi pemulihan.

Akibat kejadian itu, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Manado mengeluarkan himbauan kepada insan pers yang akan meliput didaerah konflik seperti di Sindulang.

“Wartawan harus lebih hati-hati berada di daerah konflik, baik saat sedang menjalankan tugas jurnalistik ataupun melintas dikawasan itu. Mendapatkan berita yang eksklusif atau update itu tentu hal yang diidamkan tiap jurnalis, tetapi keselamatan diri wartawan itu jauh lebih penting, sehingga sedini mungkn melakukan protesi terhadap diri sendiri, agar terhindar dari hal-halyang tidak diinginkan,ā€ himbau Ketua AJI Manado Yoseph E Ikanubun lewat jejaring sosial facebook.

Meski sempat reda, dua kelompok massa antar lingkungan II dan III kembali saling menyerang, Jumat (3/10) siang. Situasi mulai memanas sejak Pukul 13.00 WITA. Lemparan batu ke rumah warga, diduga sebagai pemicu bentrok. Namun tidak diketahui pasti dari mana awal pelemparan batu itu.

Tak menunggu lama, aksi lempar batu, lesakan anak panah wayer serta mercon tak terelakkan lagi di lorong lumba-lumba, atau perbatasan lingkungan II dan lingkungan III. Bahkan ada warga yang menggunakan tameng, menyerang dengan senjata tajam. Polresta Manado yang dibantu TNI yang terdiri dari Yonif 712/Teling, Kodim 131/Santiago serta Koramil 01 Tuminting, dikerahkan untuk menghalau massa. Bahkan untuk perkuatan personil, 6 truk Dalmas Polda Sulut, ikut diterjunkan. Berkali-kali terdengar suara tembakan peringatan menggunakan ‘flash ball’ untuk menghalau massa. Bahkan tak segan-segan, anggota yang bersenjata laras panjang harus merangsek ke depan agar massa segera mencair. Situasi bisa diredam sekitar pukul 02.30 WITA dan setengah jam kemudian sudah bisa dikuasai. Setelah benar-benar kondusif, tim gabungan ini lalu melakukan penyisiran mencari para pelaku yang dicurigai sebagai dalang terjadinya bentrok.

Kapolresta Manado Kombes Pol Sunarto ketika coba dikonfirmasi lewat ponsel seluler, membenarkan kejadian tersebut, namun ketika coba bertanya lebih lanjut soal kejadian ini, terlihat belum bisa menjawab. Beliau mengaku sedang berada dilokasi konflik dan situasi masih terjaga.”Sebentar ya, belum bisa sekarang, saya masih di lokasi tarkam,”tandas Kapolresta.(*/tim)

Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*