Minggu, 22 September 2019

PWI Boltim Desak Kapolri Usut Tuntas Kekerasan Pers di Makassar

TUTUYAN,(manadoterkini.com) – Aksi brutal oknum anggota Brimob di Makassar, Sulawesi Selatan terhadap sejumlah jurnalis yang menjalankan tugas peliputan saat demo penolakan BBM oleh Mahasiwa UNM, menuai kecaman dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Perwakilan Bolmong Timur (Boltim).

Ketua PWI Perwakilan Boltim, Faruk Langaru, mengatakan, tindakan represif oknum aparat keamanan di Makassar tidak boleh dibiarkan begitu saja. “Kami sangat prihatin mendengar kasus kekerasan terhadap rekan jurnalis di Makassar. Malah dengan munculnya kasus kekerasan seperti ini justru membuktikan bahwa aparat kepolisian gagal memahami peran pers yang diatur dalam undang – undang,” kata Faruk, Sabtu (16/11).

Perilaku oknum aparat polisi di Makassar ini, kata Faruk, harus diusut hingga tuntas. Bahkan pihaknya mendesak Kapolri agar memberi sanksi tegas kepada anak buahnya. “Deretan kasus kekerasan terhadap wartawan merupakan preseden buruk terhadap kemerdekaan pers di Indonesia. Kapolri harus memberi sanksi kepada pelaku yang melakukan pemukulan terhadap rekan kami di Makassar,” tegas Faruk yang juga wartawan Swara Kita.

Pendapat yang sama juga dilontarkan Ismail Batalipu, wartawan Harian Media Sulut yang bertugas di Boltim ini mengungkapkan, tingginya jumlah kasus kekerasan terhadap jurnalis diakibatnya minimnya pemahaman aparat mengenai UU Pers. “Melindungi kerja jurnalis artinya turut menjaga kebebesan pers dalam memberitakan berbagai informasi yang terkait dengan kepentingan publik,” terangnya.

Dia juga meminta aparat kepolisian di Bolmong Raya tidak meniru aksi brutal tersebut. Menurut dia, aksi brutal tersebut sangat mengerdilkan peran jurnalis yang diatur dalam UU Pers Nomor 40 Tahun 1999. “Jangan sampai kasus seperti ini terjadi di Bolmong Raya. Menghalang-halangi kerja jurnalis sangat dilarang. Apalagi sampai melakukan kekerasan,”tandasnya. (ojr)

Tags: , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*