Selasa, 17 September 2019

Gelar Rakor, TPID Manado Bahas Lonjakan Harga Cabe

manado

Rakor TPID Manado

MANADO, (manadoterkini.com) – Kenaikan harga cabe atau rica menjadi penyumbang inflas terbesar di Kota Manado, Sulawesi Utara. Seperti dipaparkan Kepala Bank Indonesia perwakilan Sulawesi Utara di Manado, Luctor Tapiheru. “Perbandingan inflasi antar kota di Sulawesi, Manado tertinggi dengan poin 1.14 persen diikuti Palu 1.31 persen. Tekanan inflasi November 2014 dipicu karena kenaikan cabe/rica sebesar 50 persen,” urai Luctor dihadapan peserta Rapat Koordinasi (Rakor) Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Manado, Senin (24/11) yang dipimpin langsung Walikota Dr GS Vicky Lumentut.

Diakui Tapiheru, meroketnya harga rica di pasaran sudah terjadi sejak memasuki bulan November. Padahal, dari pantauan Bank Indonesia awal bulan November harga masih dikisaran Rp22 ribu tapi masuk pertengahan sudah berada Rp70 ribu dan saat ini harga Rica telah mencapai Rp112.500 ribu per kilo.

“Kita harus mengetahui situasi di pasar dan sumber pasokan dari mana dan kemana larinya. Panen Rica menurut petani Minahasa ada saat ini, namun pengaruh harga juga dari Jawa yang naik, hingga terjadi lonjakan harga di Manado khususnya, “ujar Tapiheru sembari menuturkan kenaikan harga cabe menjadi isu nasional.

Untuk menindaklanjuti gejolak harga rica atau cabe, Walikota GS Vicky Lumentut meminta kerja sama semua agar kedepan bisa menekan inflasi yang diakibatkan naiknya harga rica atau cabe. “Saya minta kerja sama semua pihak dalam hal ini TPID, baik pedagang besar, maupun SKPD terkait dapat menindaklanjuti gejolak harga rica tersebut. Apalagi kenaikan harga rica menjadi penyumbang terbesar inflasi daerah,”ungkap Lumentut.

manado

Para peserta rakor TPID Manado

Dilain pihak adanya dugaan permainan harga oleh pihak penampung dan penjual cabe diharapkan kedepan bisa ditindaklanjuti. “Jangan ada kesan ada permainan harga sehingga mengakibatkan inflasi. Karena harga tidak turun-turun apalagi menghadapi hari raya,”terang Walikota.

Ditempat yang sama salah satu pedagang besar, kenaikan harga cabe diakibatkan sejumlah centra produksi cabe gagal panen karena musim kemarau berkepanjangan lalu. “Musim kemarau lalu mengakibatkan gagal panen sejumlah wilayah. Dimana permintaan meningkat sedangkan barang atau rica kurang,”kata salah satu pedagang besar semberi menuturkan harga rica di pasar tradisional Sabtu kemarin mencapai Rp 140 ribu, namun hari ini sudah turun menjadi Rp 90 ribu perkilogram.

Sementara itu, Asisten II Drs Rum Usulu, menjelaskan kanaikan harga transport akibat kenaikan BBM menjadi salah satu pemicu naiknya harga, selain gagal panen. “Memang ada sejumlah centra cabe mengalami gagal panen, ketika ada permintaan banyak sehingga memicu kenaikan. Begitu pun dengan naiknya BBM mempengaruhi angkutan atau transport cabe. Namun untuk bulan Desember bisa dipastikan stoknya ada, karena saat ini buahnya ada,”pungkas Usulu.

Diketahui dalam rapat koordinasi TPID tersebut, Walikota GSVL didampingi Wawali Harley AB Mangindaan dan Sekda MHF Sendoh.  Sejumlah instansi teknis Pemkot Manado serta keterwakilan dari angggota TPID Manado hadir dalam rapat tersebut.(ald)

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*