Kamis, 17 Oktober 2019

GSVL, Tokoh Nasional yang Cerdas dan Disegani

manado

Walikota Manado GS Vicky Lumentut

MANADO, (manadoterkini.com) — Kapasitas dan kapabilitas Walikota Manado GS Vicky Lumentut (GSVL) sudah teruji. Tak hanya mampu memberikan warna tersendiri dalam membangun Manado lewat 8 program yang sudah dan sementara dijalankan, namun GSVL sudah diakui secara nasional sebagai pemimpin yang cerdas. Salah satu tolak ukur adalah keberhasilannya mengangkat organisasi para Walikota yakni Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) ketika dirinya menjabat Ketua Dewan Pengurus. Dengan konsep-konsepnya yang nyata, sehingga GSVL dinilai sebagai tokoh nasional yang cerdas dan disegani.

Tak pelak, 8 program yang dicetuskan Walikota GSVL mulai diadopsi sejumlah kepala daerah di Indonesia, yakni pengobatan gratis bagi warga Manado lewat program Universal Coverage (UC), program Pembangunan Berbasis Lingkungan (PBL), Santunan duka bagi warga yang meninggal dunia sebesar Rp2,5 juta, meningkatkan honor petugas kebersihan menjadi Rp2 juta perbulan, memberikan insetif bagi para Rohaniawan, meningkatkan upah Kepala Lingkungan (Pala) yang hingga sekarang sudah menjadi Rp2,25 juta perbulan, bantuan pendidikan bagi siswa yang kurang mampu, dan kenaikkan tunjangan kerja bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Meskipun belum semua program itu diadopsi.

“Fantastis. Pak Walikota Manado mampu membuat sejumlah program unggulan yang dinilai sangat membantu warga masyarakat dan aparat pemerintah yang ada paling bawah,” puji Walikota Batam, Ahmad Dahlan.

Dia bahkwan merasa terkesan bercampur kaget serta memuji terobosan luar biasa yang dilakukan Walikota GSVL atas santunan dana duka warga yang meninggal dan pemberian gaji kepala lingkungan yang boleh dikata tergolong Wah tersebut. Menurut dia, secara jujur pihaknya di Batam tak mampu dan tak berani mengalokasikan dana bagi setiap warga yang meninggal dan pemberian upah atau gaji untuk aparat pemerintah di lapangan seperti kepala lingkungan.

Pasalnya, meski jumlah penduduk Batam dan Manado tidak terlalu jauh berbeda, namun pihaknya masih harus berpikir panjang untuk melakukan terobosan yang sangat menyentuh masyrakat tersebut. Namun demikian, pihaknya kemungkinan akan mengikuti atau mengadopsi sejumlah program unggulan Walikota GSVL kedepan. “Program pak Walikota Manado ini suatu langkah dan terobosan yang patut ditiru. Beliau memang hebat dalam menyusun anggaran pro-rakyat. Pantas memang kalau beliau yang memimpin kami para Walikota se-Indonesia,” puji Dahlan.

Tak hanya sampai di situ, Dahlan juga sudah merasakan bagaimana GSVL menjadi leader dan pengayom bagi semua kepala daerah, bukan saja para Walikota tetapi juga para Bupati. “Saya sangat salut dan angkat topi pada Walikota Manado pak Vicky, ini pimpinan Walikota se-Indonesia serta ketua kelas saya saat mengikuti program pendidikan Kemendagri di Universitas Harvard Amerika Serikat. Dan Pak Vicky yang mengayomi kami semua Walikota maupun Bupati yang ikut saat itu, jadi saya tahu persis kepintaran dan sosok low profile Walikota Manado ini,” puji Dahlan.

Seorang Prof Dr Drs Jan LL Lombok SH MSi juga mengakui sosok Walikota GSVL pantas disejajarkan sebagai tokoh nasional. Pasalnya bagi Lombok, GSVL dinilai sebagai pemimpin panutan yang terus memberikan perubahan dalam pembangunan. Bukan hanya sebatas membangun fisik di Manado, tetapi membangun moral manusia. “Harus diakui bahwa kepemimpinan pak Vicky (GSVL, red) selama hampir 5 tahun ini, telah berhasil. Tidak gampang menata kota ini, tapi di tangan pak Vicky, kota ini telah banyak perubahan,” ujar mantan Rektor Unima dua periode itu memuji kepemimpinan GSVL.

Sebagai orang teknis, kata Prof Lombok, GSVL tahu apa yang akan dilakukannya dengan kota ini. “Pak Vicky sebagai orang teknis, tahu memulainya dari perencanaan kemudian menjalankan rencana tersebut dituangkan dalam pembangunan,’’ ujarnya.

Sehingga bagi Prof Lombok, untuk saat ini tidak cukup waktu bagi seorang GSVL, sehingga dirinya masih dibutuhkan melanjutkan membangun kota ini lima tahun lagi.

Tak sekedar pujian, ketokohan dan kecerdasan berpikir GSVL juga dibuktikannya ketika dia selaku Ketua APEKSI mampu meyakinkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat itu, untuk bagaimana mempertahankan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tetapi dilakukan langsung oleh rakyat, karena saat itu sudah hampir dipastikan Pilkada dikembalikan ke lembaga DPRD. Walikota GSVL pun tak canggung berdiri di garis terdepan memimpin aksi damai mempertahankan Pilkada tetap dilakukan oleh rakyat.

“Mengembalikan mekanisme Pilkada kepada DPRD merupakan langkah mundur bangsa ini dalam berdemokrasi. Lebih dari itu menyerahkan Pilkada ke DPRD sama saja merampok kedaulatan politik rakyat,” ujar Isran Noor, Ketua Asosasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) Isran Noor yang juga Bupati Bupati Kutai Timur saat itu meneruskan penegasan GSVL.

Terobosan itu pun berbuah hasil, dimana Presiden SBY saat itu langsung mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Pilkada langsung.

Kini, Walikota GSVL tengah menyusung konsep menjadikan Manado Kota Cerdas, sebab dalam benaknya bahwa Manado harus lebih jauh lagi dalam perkembangannya, yang diselaraskan dengan program nasional dimana konsep menuju Kota Cerdas juga tengah diadopsi sejumlah kota lainnya di Indonesia, atas gagasan GSVL dalam kapasitasnya sebaagi Ketua APEKSI. Dan untuk Manado sendiri, CERDAS yang juga mengandung kepanjangan Cendikia, Ekowisata, Religi, Daya saing, Aman, Sehat.

Atas konsep Manado Kota Cerdas inilah sehingga Walikota GSVL terundang langsung untuk menghadiri peluncurkan Indeks Kota Cerdas Indonesia 2015 di Jakarta, pada 24 Maret 2015 belum lama ini, dimana indeks ini bertujuan untuk mengukur dan memeringkat kinerja pengelolaan kota berbasis teknologi digital terhadap pelayanan masyarakat. Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menjadi pembicara utama dalam acara peluncuran Indeks Kota Cerdas Indonesia tersebut.

Dikatakannya, aspek kepemimpinan juga berperan penting dalam menjamin sebuah kota cerdas. Karakter tersebut diwujudkan dalam kedisiplinan dalam menata kota, misalnya terkait peruntukan lahan dan pemberian sanksi bagi warga yang melanggar ketertiban. ”Kota yang warganya tidak disiplin pasti tidak menarik dan kotor. Pada akhirnya tidak menarik bagi wisatawan. Kita bicara tentang upaya kita sekarang dan masa depan untuk hidup yang lebih nyaman. Kriterianya banyak. Namun, bayangannya ada kehijauan, ada angkutan umum, rumah bertingkat, lingkungan yang bersahabat, keamanan, dan sebagainya. Inilah cita-cita yang harus kita laksanakan untuk melayani masyarakat kota,” ujar JK saat itu.

Harus diakui, peningkatan jumlah penduduk di perkotaan menimbulkan masalah daya dukung yang terbatas dan perlunya manajemen perkotaan yang andal. Untuk itu, perlu adanya gambaran tentang kesiapan dan daya dukung kota-kota di Indonesia dalam meningkatkan pembangunan Indonesia. Pada 1990, sebanyak 31 persen dari total penduduk Indonesia tinggal di perkotaan. Sepuluh tahun kemudian, jumlah itu naik menjadi 42 persen. Dan pada 2025 mendatang, jumlah penduduk Indonesia yang tinggal di perkotaan diprediksi akan mendekati 57 persen. Karena itulah dipikirkan bagaimana menjadikan kota itu menjadi cerdas.

Sejauh ini, konsentrasi dan kepedulian GSVL tak hanya tertuju pada warga Manado saja, lebihnya juga terus melakukan terobosan dalam organisasi yang dipimpinnya, yakni APEKSI. Dalam setiap kesempatan, GSVL selalu menegaskan pentingnya koordinasi dan sinkronisasi antara sesama anggota APEKSI, agar makin terbina hubungan baik lintas pemerintah daerah. Banyaknya persoalan baru yang sering muncul di daerah, sehingga perlu kepala daerah saling menjaga hubungan baik.

“Guna memantapkan pelaksanaan otonomi daerah, hubungan antara daerah dalam mewujudkan pelaksanaan otonomi daerah perlu terus ditingkatkan. Memang banyak tantangan pemerintah daerah sering menghadapi masalah yang sama, dengan berkoordinasi kita berharap masalah yang timbul dapat kita minimalisir atau diselesaikan. APEKSI juga harus terus mendukung program pemerintah pusat,” ujar GSVL memotivasi para Walikota se-Indonesia.

Walikota visioner ini menyentil terkait perkembangan demokrasi lokasi yang direlasikannya dengan tantangan yang dihadapi pemerintah kota di daerah masing-masing untuk dikuatkan pelayanannya. ”Kita sadar dengan letak dan kondisi geografis Indonesia, serta perbedaan kondisi sosial, budaya, ekonomi dan politik seperti sekarang ini juga melahirkan problem tersendiri di daerah, maka perlu ditemukannya resep yang jitu, dan kajian yang serius untuk mengeluarkan daerah dari kemelut yang ada. Hubungan antara kota yang menentukan ketahanan nasional, hubungan antara satu kota dengan kota lainnya, maupun antara kota dengan kabupaten menjadi potensi untuk kita memajukan negara ini, mari terus jaga hubungan baik,” jelas GSVL.(***)

Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*