Jum'at, 18 Oktober 2019

AJI Manado Peringati May Day dan Word Press Freedom Day/WPFD

aji manado

Aksi AJI dan IJTI

aji manado

Orasi Fernando Lumowa di Zero Point, Manado

MANADO, (manadoterkini.com) – aksi damai turun ke jalan dalam rangka memperingati Hari Buruh (May Day) 1 Mei dan Hari Kebebasan Pers Sedunia (Word Press Freedom Day/WPFD) 3 Mei digelar oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Manado Senin, (04/05) kemarin. Aksi ini menyuarakan tuntutan keadilan kesejahteraan jurnalis dan independensi kebebasan pers di Sulawesi Utara.

Aksi yang diikuti puluhan jurnalis, anggota AJI, perwakilan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) dan organisasi pers lainnya berawal di Zero Point Manado. AJI melalui Ketua Yoseph Ikanubun dan Sekretaris Fernando Lumowa menyatakan sikap keprihatinan, bagi para pekerja pers/jurnalis yang tak memperoleh hak sesuai yang diamanatkan UU Ketenagakerjaan, termasuk sering terjadinya ketimpangan antara pesatnya pertumbuhan media di Sulut dengan kesejahteraan jusnalis.

Banyak jurnalis di daerah ini tidak mendapatkan upah tak layak, penghasilan di bawah UMP atau UMR, kepastian atas jaminan sosial termasuk jurnalis berstatus karyawan tidak tetap. “Ada perusahan media tidak menggaji jurnalisnya, tidak sedikit yang tidak dijamin oleh BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, hak atas cuti, libur serta hak lainnya,” kata Ikanubun dan Lumowa.

Keberadaan jurnalis seperti ini memberi ancaman terhadap independensi dan profesionalisme, termasuk kian beragamnya ancaman terhadap kebebasan pers dewasa ini. Jika dulu musuh utama kebebasan pers ialah penguasa (negara), sekarang ancaman itu datang dari berbagai sisi melalui intervensi ke ruang redaksi.

Intervensi juga datang dari pemilik modal/pemilik media, penguasa, pengiklan dan kelompok politik. Kebebasan pers di dalam pemberitaan, yang seharusnya menjadi milik publik `disita/dimonopoli’ oleh berita `pesanan’ kelompok tertentu.

Kepentingan kekuasaan dan politik terlalu jauh menguasai ruang-ruang redaksi media. Banyak contoh produk jurnalistik media di Sulawesi Utara yang sulit dibedakan apakah itu berita ataukah iklan berbayar yang seharusnya dipagari `pagar api’ yang jelas. “Acapkali ditemukan adanya berita yang tidak independen, sepihak dan tak berimbang,” jelas Ikanubu. (mlz)

Tags: , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*