Minggu, 15 September 2019

Komisi II Deprov dan Tim Ekonomi Sulut Dinilai Tidak Pro Petani Cengkih

SULUT, (manadoterkini.com) – Harga cengkih terus merosot tajam hingga menembus angka Rp. 88.000/Kg. Hanya selang beberapa minggu turun drastis jika dibandingkan pada bulan juli lalu masih dikisaran diatas 100 ribu per kilogram.

Alfons Sumual Aktivis pemuda Minahasa Selatan menjelaskan sebenarnya tahun ini panen berkurang jika dibandingkan Tahun-tahun sebelumnya, sehingga eksekutif dan legislatif harusnya turut menjaga stabilnya harga sehingga cengkih tidak akan turun.

Menurut Sumual, kinerja DPRD Sulut terlebih komisi II yang membidangi Bidang Perkonomian dan Tim Ekonomi Pemprov Sulut yang terdiri dari Biro Ekonomi, Dinas Perdagangan, dan Dinas Perkebunan tidak pro rakyat terutama petani cengkih. “Apa yang telah dibuat Komisi II DPRD Sulut sekarang ini? Tidak ada yang dikerjakan melihat beberapa bulan ini harga cengkih merosot tajam harganya, kalau tidak dijaga petani akan rugi dan bisa saja cengkih tidak di petik lagi,” ujar Alfons yang juga menjabat Sekretaris DPD KNPI Minsel.

Ia menuturkan bila dibandingan legislator periode 2009-2014 benar-benar memperjuangkan petani cengkih, bahkanpun harga waktu itu sempat menembus angka diatas Rp 150 ribu.

“Waktu Ketua Komisi Pak Steven Kandouw, harga cengkih terjaga. Pimpinan dan anggota komisi II waktu itu membuat langkah awal dan tepat memanggil Tim Ekonomi Pemprov dan perbankan, selanjutnya dikeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub),” ujar Sumual.

Ia juga mengatakan legislator jangan Asal Bunyi bahwa turunnya harga cengkih karena faktor hukum ekonomi. “Coba bayangkan kebutuhan nasional cengkih sekitar 120 ribu ton, sedangkan yang tersedia hanya 80 ribu ton. Berarti inikan kekurangan stok, kok malah harga justru turun. Saya berharap ini menjadi perhatian Komisi II Deprov Sulut,” ujar Sumual.

Jadi saya berharap Tim Ekonomi Pemprov dan Komisi II DPRD Sulut benar-benar berjuang mempertahankan harga cengkih, kalau bisa diatas 150 ribu seperti legislator pada periode sebelumnya. (redaksi)

Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*