Kamis, 12 Desember 2019

Astaga, Pembunuhan Siswanto Direncanakan Sejak Desember 2014

AMURANG, (manadoterkini.com) – Polres Minahasa Selatan (Minsel) terus melakukan pengembangan kasus pembunuhan terhadap mahasiswa semester akhir Unima yakni Siswanto Nurhamidin (27) warga Kelurahan Lahendong Kota Tomohon.

Kapolres Minsel AKBP Benny Bawensel SIK MH yang didampingi Kabag Ops, Kasat Reskrim AKP Syaful Wachid dan Katim Buser IPtu Mochamad Nandar Sik mengatakan, dari hasil pengembangan polisi berhasil mengungkap kejahatan yang dilakukan kelima tersangka berinisial BS alias Ben (65) oknum pensiunan polisi warga Amurang, HS alias Hendrik alias Ungke (47), SP alias Ewai (38) dan OG alias Olla (38) dan SS Sela (25) adalah pembunuhan berencana.

Polres Minsel

Ini dibuktikan dengan pengakuan tersangka, dimana lubang untuk menguburkan korban sudah disiapkan sejak Desember 2014 lalu. “Pada akhir tahun 2014 mereka sudah berencana membunuh korban, namun nanti terlaksana pada 10 Februari 2015 lalu,” ujar Bawensel.

Selain itu menurut Bawensel, tim penyidik juga mengamankan skitar 4 butir potassium sebesar bola pimpong di rumah tersangka Ungke dan Ola di Kelurahan Uwuran Kilometer Dua Kecamatan Amurang. “Potasium ini diduga sisa yang disuguhkan kepada korban yang dicampur kopi manis,” ujarnya.

Diduga untuk menghabisi korban para tersangka melarutkan dua butir ke dalam kopi. Sehingga hanya hitungan 2 menit saja korban langsung mules dan menuju ke kamar mandi, selanjutnya pingsan. Diduga saat pingsan korban dipukul dengan benda tumpul hingga tewas. Sementara motif pembunuhan diduga lantaran utang Rp 24 juta dan ingin menguasai mobil Ertiga putih milik korban. “Kami belum menemukan adanya indikasi lain seperti dendam karena hubungan asmara,” ujarnya.

Polres Minsel

Ditambahkan, korban juga sempat di bawa ke kamar dan nanti keesokan harinya sekitar pukul 22.00 WITA pada 11 Februasi malam korban diangkut dengan mobil Ertiga menuju ke Desa Liningaan Kecamatan Maesaan, dan mayat korban dibaringkan di kursi belakang.

Setelah menguburkan korban para tersangka langsung kembali ke Amurang. Untuk menghilangkan jejak para tersangka mengganti nomor polisi mobil tersebut. Setelah itu mereka menggadaikan mobil tersebut kepada salah satu warga dengan uang Rp 7,5 juta. Perjanjiannya kalau surat-suratnya sudah ada mobil itu akan dijual.

Anehnya pada akhir Februari lalu, keluarga korban sempat melapor ke Polres Tomohon terkait kehilangan orang dan penggelapan mobil Ertiga. Namun pada saat itu belum dikembangkan pihak kepolisian. Padahal awal kasus itu terjadi di Tomohon. “Para tersangka diancam pasal 340 KUHP Subsedir pasal 338 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal seumur hidup,” pungkasnya.(dav)

Tags: , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*