Rabu, 17 Juli 2019

Sebagai Penjabat Walikota Manado, ROR Harusnya Berkaca Kesuksesan Robby Mamuaja

manadoMTerkini.com, MANADO – Dipercayakan sebagai Penjabat Walikota Manado, membuat Royke Roring seakan lupa diri akan kapasitasnya yang hanya ditunjuk bukan dipilih. Tidak mengherankan banyak persoalan yang nantinya diwariskan kepada Walikota terpilih periode 2016-2021 yakni GS Vicky Lumentut – Mor Dominus Bastiaan.

“ROR harusnya berkaca kepada mantan Penjabat Walikota lalu Robby Mamuaja. Meski hanya Penjabat Walikota, Adipura mampu dipertahankan. Jalani apa yang menjadi tanggung jawab. Birokrasi jalan karena tidak dihantui dengan rolling pejabat,” ungkap Widdy Rorimpandey SP MPd kepada manadoterkini.com.

Sepeninggal Walikota Manado periode 2010-2015 yakni GS Vicky Lumentut, Desember 2015 lalu, Kota Manado, bergelimang penghargaan. Bahkan dalam pengelolaan administrasi dan keuangan Pemkot Manado mendapatkan Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).

“Bahkan beberapa penghargaan yang diterima oleh ROR itu merupakan buah kerja GSVL semasa menjabat Walikota Manado. Anehnya untuk Adipura dalam penilaian P1 saja ROR tidak mampu mengawalnya. Jangan sampai pengelolaan administrasi keuangan ikut berimbas. Jika itu terjadi, pastinya GSVL-MOR akan kembali menata dari awal,” sindir tokoh pemuda yang berlatar belakang akademisi tersebut.

Informasi yang berhasil dirangkum manadoterkini.com, kinerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Pemkot Manado kurang begitu bagus semasa kepemimpinan ROR. “Gimana mau kerja bagus terus dihantui dengan rolling pejabat. Sedangkan hanya beberapa bulan sudah lakukan rolling tiga kali apalagi setahun menjabat,” aku sejumlah ASN Pemkot Manado.

Disatu sisi para ASN ini pun mengakui semuanya bukan semata-mata kesalahan Penjabat Walikota namun top birokrasi di Pemkot Manado yakni Sekretaris Daerah (Sekda) yang telah terkontaminasi dengan Politik praktis.

“Gimana birokrasi mau jalan bagus, Sekdanya diduga menjadi tim sukses salah satu calon. Dan itu sudah dilaporkan salah satu LSM ke Polres Manado. Itu jelas menjadi preseden buruk bagi birokrasi di Pemkot Manado,” ungkap para ASN sembari meminta namanya tidak dipulis.

Di tempat lain, kegagalan meraih Piala Adipura tahun ini ikut ditanggapi beragam oleh berbagai kalangan. Aktivis lingkungan Kota Manado Alfian Sumual menilai, kegagalan tersebut harus menjadi evaluasi bagi pemerintah, khususnya menyangkut pemberlakuan regulasi yang tidak konsisten.

“Seperti contohnya peraturan daerah (perda) sampah yang penerapannya tidak jalan. Adipura adalah salah satu upaya treatment kepada daerah untuk dapat memperbaiki segala sesuatu yang berhubungan dengan lingkungan, sehingga jauh lebih baik lagi,” ujarnya.

Dia menambahkan, kegagalan meraih Adipura juga mengindikasikan kegagalan pemerintah dalam membenahi masalah lingkungan. Di mana tidak saja satu instansi yakni Dinas Kebersihan dan pertamanan, melainkan koordinasi antarinstansi berkompeten. “Ini sekaligus menjadi evaluasi semua stakeholder hingga bagaimana kesadaran masyarakat,” ketus Alfian.

Pengamat pemerintahan Taufik Tumbelaka menilai, kegagalan merebut kembali Piala Adipura tahun ini disebabkan banyak faktor. Di antaranya kondisi pemerintahan yang sedang berada di masa transisi. “Apalagi isu rolling yang terus menggelinding di lingkungan Pemkot Manado saat masa transisi ini tentu saja telah membuat kinerja pejabat tidak lagi maksimal,” ungkapnya.

Makanya, kata dia, kegagalan merebut Piala Adipura menjadi cambuk bagi pemerintahan Roy Roring. “Seperti biasanya, isu rolling di masa transisi memang sensitif dan bisa mengacaukan kinerja jajaran di setiap SKPD. Ini bisa jadi salah satu dampaknya,” pungkasnya.(ald)

Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*