Kamis, 5 Desember 2019

Sepenggal Catatan Antara Berdiam dan Berkarya Untuk Musik Indonesia

waroeng charitymanadoterkini.com, SULUT – Selama anda tidak peduli dengan musik, anda berarti tidak benar-benar menerima fakta-fakta bahwa musik hidup berdampingan dengan keseharian kita.

So (Jadi), mengapa anda menutup mata, menutup telinga, padahal indra perasa anda seakan ingin berteriak menahan ketidak pedulian yang tak memiliki alasan mendasar itu. Ataukah anda lebih memili berdiam, ataukah anda lebih memilih bermasa bodoh. Beruba dan berbenahlah sobatku, berubalah dan berbenalah hai anak bangsa, beruba dan berbenalah hai anak musik manado. Jangan berdiam diri, keluar dari kemunafikan, tunjukan kreasi anda dan berkaryalah.

Saya ajak anda lewat tulisan ini, menyaksikan perjuangan Waroeng Charity, yang dengan keterbatasan memfasilitasi musisi daerah bahkan nasional, paling tidak memberi wadah untuk musisi berkreasi.

Hanya dengan kepedulian terhadap musik, hal ini menjadi nyata, mampu menggelar kegiatan live musik setiap Jumat malam. Untung saja para pencinta musik Manado, Sulawesi Utara (Sulut) memanfaatkan kesempatan ini. Jadi, sedikit menjawab panggilan (sebutan saya).

Malam Minggu (11/03/2017) kemarinpun, dalam rangka peringati Hari Musik Nasional, paling tidak 17 personil Grup Band daerah bersama manajemen Charity sukses menggelar live musik, yang bertajuk Hari Musik Nasional.

Semangat berapi-api terpancar lewat tampilan demi-tampilan. Seakan membawah pesan, bahwa musisi daerah pun mampu berkarya. Tak ngaru (berdampak) mungkin kata orang. Namun, bagi mereka hal yang paling penting mempersembakan yang terbaik buat audies, buat penikmat, juga para pecinta.

Pertanyaan saya. Peringatan Hari Musik Nasional, 9 Maret yang juga dikenal sebagai hari mengenang kelahiran pencipta lagu Kebangsaan Indonesia Raya, Wage Rudolf Soepratman, apakah hanya sebuah seremonial. Akankah penguasa daerah memperhatikan moment ini sebagai kebangkitan musik di daerah, atau paling tidak memperhatikan para musisi.

“Teruslah jadi wadah buat kami, waroeng charity. Karena, sekarang ini tidak ada lagi tempat, tidak ada lagi kafe yang membuat kegiatan seperti ini, ” Kata Vokalis grup band Mr. eighty two 82, Valentino Polii.

Dipandang sebelah mata pun, toh mereka sudah memberi untuk Sulawesi Utara (Sulut).

“Musik bukan sekedar ajang hiburan penuh hura hura. W R Soepratman menjadikan musik sebagai pembangkit semangat kemerdekaan Indonesia, ” ucap Stevanus Pusung pemilik Waroeng Charity sembari mengucapkan terima kasih kepada semua yang terlibat.

“Luar biasa untuk semua, musisi manado is the best, ” tuturnya.(alfa)

Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*