Selasa, 21 November 2017

Pemprov Harapkan Peran Media Dalam Menangkal Radikalisme dan Terorisme

 

sulutmanadoterkini.com, SULUT – Informasi yang berisi fitnaan, hasutan bahkan kekejian banyak beredar di media sosial, tidak hanya itu, termasuk informasi yang bermuatan radikalisme dan terorisme juga banyak beredar.

Karena itu, peran pers, peran media sangat diharapkan dalam menangkal informasi-informasi tersebut.

“Peran dan tanggung jawab industri media senantiasa diharapkan dalam upaya pencegahan dan penangkalan masuk serta berkembangnya gerakan radikalisme dan terorisme,” ungkap Kepala Badan Kesbangpol Sulawesi Utara (Sulut), Steven Liow S.Sos saat mewakili Gubernur Olly Dondokambey pada kegiatan literasi media sebagai upaya cegah dan tangkal radikalisme dan terorisme di masyarakat yang diselenggarakan Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT) bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulut, di Manado, Kamis (8/6/2017).

sulutSelain itu, Dia pun mengharapkan literasi media mampu memberikan edukasi kepada pembaca.

“Literasi media saat ini menjadi penting dan sangat diharapkan dan dapat diaktualisasikan dalam pemberitaan, termasuk untuk tidak memberi ruang pada kekerasan dalam narasi pemberitaan mengenai radikalisme dan terorisme,” imbuhnya.

Dikesempatan yang sama, Anggota Dewan Pers Jimmy Silalahi, menyatakan, pers atau media massa jangan menjadi senjata teroris, sebab para penganut aliran radikalisme menjadikan sarana media untuk menyebar rasa ketakutan.

“Teroris sangat pintar sekarang ini menjadikan sarana media untuk menyebar ketakutan, maka hati-hati memberitakan segala aksi terorisme,” ujarnya didampingi Ketua FKPT Sulut James Tulangow SE.

Menurutnya, yang menjadi senjata utama teroris adalah pemberitaan yang berlebihan dari media massa. Akhirnya menjadi teror yang teramat besar.

“Hingga pesan mereka sampai dan sukses, tidak sadar kita media telah membantunya, hal ini jangan sampai terjadi,” tandas Silalahi.

Diketahui, fenomena global gerakan radikalisme dan terorisme semakin mengusik keamanan dan ketertiban negara. Salah satu bukti nyata adalah konflik baku tembak yang berkecamuk antara Militer Filipina dan Kelompok Maute yang berafiliasi dengan ISIS di Kota Marawi.

Sebagai negara yang berbatasan langsung dengan Filipina, tentunya hal ini menjadi sebuah ancaman besar bagi Indonesia, terlebih Sulut yang berhadapan langsung dengan negara ini, sangat berpotensi menjadi jalur masuk, tempat transit bahkan tidak tertutup kemungkinan menjadi fokus aksi bagi pelaku terorisme.

Adapun kegiatan tersebut turut diikuti perwakilan dari praktisi humas, dosen, mahasiswa, pelajar dan Polda Sulut.(alfa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*