Senin, 20 November 2017

SEMOGA BUDAYA MALU KITA TIDAK KEHILANGAN JIWA

(Oleh: Verly Tielung, S.Fils, Ketua Pemuda Katolik Minahasa Selatan)

PEMUDA KATOLIKDIAKHIR tahun kemarin Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Djoko Sasono mundur dari jabatan karena merasa gagal mengantisipasi sektor transportasi darat menjelang libur Natal dan Tahun Baru. Ada yang berasumsi, sikap mundurnya itu menjadi tanda bahwa budaya malu mulai tumbuh di negeri ini. Hampir bersamaan dengan mundurnya Djoko Sasono, di awal tahun ini seorang Pejabat Pemkab Minahasa menginstruksikan 10 (sepuluh) budaya malu yang harus diterapkan oleh ASN di lingkungan kerjanya. Dan sampai hari ini di ruang-ruang publik, tak susah kita menjumpai slogan-slogan budaya malu. Mungkin perlulah kita menakar kembali konsep budaya malu ini agar budaya ini tidak kehilangan jiwanya. Karena jika kehilangan jiwa, budaya ini justru yang akan merusak dan menjadi sumber segala permasalahanĀ  kita.

Budaya Malu (Yang Kehilangan Jiwa)

Budaya malu adalah perasaan malu untuk melakukan suatu penyimpangan, kesalahan, dan atau perbuatan yang dianggap buruk oleh orang lain. Misalnya, malu terlambat, malu berpakaian tidak rapi, malu korupsi atau malu mundur dari jabatan. Dalam budaya ini orang cenderung menghindari atau bahkan menyembunyikan perbuatan buruk pertama-tama karena rasa malu untuk diejek, dihina, dianggap jahat dan atau dianggap gagal oleh orang sekitar. Dorongan dasar yang membuat orang menghindari yang jahat atau menyembunyikan perbuatan buruk pertama-tama karena rasa malu dan tidak siap mendapat sangsi atau penilaian buruk dari luar dirinya. Dalam budaya ini, bukan tindakan buruk itu sendiri yang dianggap penting; yang penting ialah bahwa tindakan buruk itu tidak akan diketahui orang lain. Budaya malu seperti ini tentu tidak seutuhnya salah. Tetapi apabila orang memahami budaya malu hanya sebatas terdorong supaya dinilai baik oleh orang lain, maka sesungguhnya budaya malu itu kehilangan jiwanya. Seorang pejabat publik, misalnya, malu melakukan korupsi hanya bila dilihat atau diketahui orang, tapi ketika tak diketahui, beliau nekat dan merasa tidak malu. Seorang siswa merasa malu mencontek hanya bila dilihat teman-teman atau diketahui gurunya, tetapi ketika tidak ada yang tahu, dia akan menganggap perbuatan ituĀ  wajar. Dalam budaya ini, orang merasa malu dan bersalah melakukan hal buruk hanya jika diketahui dan dinilai orang lain. Tetapi ketika tidak ada yang tahu, tindakan tercela apapun akan dianggap wajar dan biasa. Disadari atau tidak, tindakan-tindakan tercela seperti itulah yang muncul ketika budaya malu kehilangan jiwa atau rohnya.

Budaya Rasa Bersalah: Belajar dari RinriĀ  Jepang

Ajaran tentang budaya malu ala orang Asia sesungguhnya diperkenalkan pertama kali oleh Konfusius (551SM-479SM), seorang ahli filsafat Cina, dalam ajaran moralnya tentang Li (sopan santun) dan Chi (tahu malu). Menurut Ruth Benedict (peneliti budaya Jepang), ajaran Konfusius ini diserap oleh banyak pemikir Jepang yang kemudian melahirkan ajaran khas Jepang yang mereka sebut Rinri. Inti ajaran rinri yaitu pemahaman tentang hormat pada diri sendiri (self-respect) yang melahirkan budaya rasa bersalah pada diri sendiri (guilt culture) dan rasa malu kepada orang lain jika melakukan penyimpangan (shame culture). Ajaran rinri mengharuskan setiap anggota masyarakat setiap hari dua kali menyediakan waktu untuk menggugat diri dan kemudian memperbaiki diri bahkan ada yang sampai ber-harakiri (bunuh diri). Orang Jepang ber-harakiri bukan saja karena malu kepada masyarakat (shame culture) tapi terutama karena rasa bersalah pada diri sendiri (guilt culture). Dengan kata lain, menurut ajaran rinri budaya malu harus berjalan beriringan bahkan harus dimulai dari budaya rasa bersalah pada diri sendiri. Bahkan bisa dikatakan budaya rasa bersalah adalah jiwa dan rohnya budaya malu. Misalnya, seorang pejabat tidak korupsi atau seorang siswa tidak mencontek, atau seorang suami/istri tidak selingkuh, bukan pertama-tama karena malu dianggap tidak baik oleh orang lain, tetapi karena dari dasar nuraninya, dia sadar bahwa perbuatan itu salah. Dengan demikian, orang tidak melakukan penyimpangan bukan pertama-tama karena tekanan dari pihak luar tetapi karena kesadaran dan dorongan dari dalam dirinya sendiri. Inilah konsep budaya malu yang memiliki jiwa. Konsep budaya malu yang dilandaskan pada budaya rasa bersalah seperti inilah yang seharusnya dianjurkan, diajarkan, ditanamkan dan dislogankan.

Kita Bagaimana?

Berkaitan dengan hal ini, John C. Merill memberi distingsi yang lebih jelas. Ia mengemukakan tiga tingkatan perkembangan moral. Pertama, level instinc yaitu perilaku dikatakan benar menurut pertimbangan kebutuhan dan naluri saja (tanpa memakai rasio). Kedua, level custom yaitu perilaku dikatakan benar jika orang lain atau kelompok menilai itu benar. Ketiga, level conscience yaitu tindakan dikatakan benar jika dilakukan dengan kesadaran dan pertimbangan hati nurani.

Dalam konteks ini, orang dalam level instinc adalah orang yang tidak memiliki budaya malu apalagi budaya rasa bersalah. Meski telah ketahuan melakukan penyimpangan tetap saja terus melakukan karena dia hanya menggunakan insting. Orang dalam level custom adalah orang yang memiliki budaya malu tetapi hanya merasa malu untuk melakukan penyimpangan bila dilihat dan diketahui orang lain. Bila tidak diketahui orang, maka penyimpangan apapun akan dianggap wajar (shame culture). Adapun orang dalam level conscience adalah orang yang memiliki rasa bersalah pada dirinya dan pada hati nuraninya bila melakukan penyimpangan. Orang dalam level ini menghindari segala bentuk penyimpangan bukan saja karena malu pada penilaian orang lain tetapi terutama karena rasa bersalah dan malu pada diri sendiri (guilt culture). Semoga saja budaya malu yang diapresiasi khalayak kepada Djoko Sasono, budaya malu yang diwajibkan di Minahasa dan budaya malu yang sementara ramai kita slogankan dan praktekkan sungguh-sungguh memiliki jiwanya. Memiliki jiwa karena dilakukan atas dasar rinri dan conscience. Memiliki jiwa karena dilandaskan bukan pertama-tama pada rasa malu akan penilaian khalayak atau atasan, tetapi terutama dilakukan dan dilandaskan pada sikap hormat kita pada hati nurani kita dan rasa bersalah dari dalam diri bila menghianati hati nurani kita itu. (Tim Redaksi)

Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*