Rabu, 26 September 2018

15 Warga GMIM Menyurat Ke BPMS GMIM, Batalkan Cerai Hidup dan LGBT di Juklak Pilpelsus

 

manadomanadoterkini.com, TOMOHON – Tinggal menghitung jam jemaat GMIM akan melakukan Pemilihan Pelayan Khusus Tahun 2017. Pemilihan Pelayan Khusus pertama dilakukan di tingkat kolom Jumat 13 Oktober 2017 untuk memilih Penatua dan Syamas kolom serta Minggu 15 Oktober 2017 untuk memilih penatua BIPRA aras jemaat.

Namun dalam Juklak pemilihan pelsus masih terdapat tarik menarik soal aturan cerai hidup dan LGBT. Dengan masih berpolemiknya masalah ini sejumlah warga GMIM melayangkan Surat Permohonan ke BPMS GMIM agar mengkaji dan menarik kembali masalah cerai hidup dan LGBT. Surat tersebut disampaikan warga GMIM lewat perwakilan yang dibawah langsung oleh Joppie Worek anggota jemaat GMIM Kanaan Asabri Wilayah Kalawat Dua selasa (10/10/2017) pukul 11.50 WITA di Kantor Sinode GMIM Tomohon.

“Membatalkan Kriteria Cerai Hidup dan LGBT Juklak Pemilihan Syamas dan Penatua di Kantor Sinode GMIM. Terima kasih 15 anggota jemaat yg sudah bertanda tangan. Terimakasih para pendeta dan Pelsus yg sudah mensuport langkah ini,” Kata Worek lewat akun Facebooknya.

Saat ke kantor Sinode GMIM, Joppie berjumpa dengan Pdt. Arthur Rumengan, Pdt. Hein Arina, Pdt Jannny Rende, Pnt. Jonly Wenur, Kabag Tata Usaha Meiske. (red)

Inilah surat permohonan yang kami sampaikan kepada BPMS GMIM.

Manado, 10 Oktober 2017
Kepada Yth :
Badan Pekerja Majelis Sinode
Gereja Masehi Injili di Minahasa
Di – T o m o h o n,-

H A L : PERMOHONAN UNTUK MEMBATALKAN KRITERIA
CERAI HIDUP DAN LGBT DALAM JUKLAK PEMILIHAN

Salam dalam Kasih Tuhan Yesus Kristus,

Sebagai warga GMIM, perkenankanlah kami menyampaikan surat permohonan terkait Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) Pemilihan di Semua Aras GMIM tahun 2017-2018, lebih khusus Pemilihan di Aras Jemaat.

Sebelum lanjut, ingin kami sampaikan beberapa catatan kondisi dan situasi jemaat GMIM menanggapi Juklak Pemilihan Aras Jemaat lebih khusus tentang Kriteria Calon Syamas dan Calon Penatua pada Bab II huruf D, angka 2 butir e, Tentang Kriteria : “Bakal Calon Syamas dan Calon Penatua tidak berprilaku penjudi, pemabuk, baku piara, melakukan perzinahan, LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) dan cerai hidup”.

Khusus tentang “cerai hidup” telah dipertegas lagi dengan Surat Penegasan Juklak Pemilihan di Semua Aras Nomor : K.1251/PPD.VII-2017 tertanggal 20 September 2017; sebagai berikut pada butir 8 : “Yang dimaksud dengan kriteria cerai hidup ialah seseorang yang bercerai dengan pasangan nikah dan seseorang yang kawin dengan yang pernah cerai hidup tidak dapat dipilih sebagai Pelayan Khusus (Syamas dan Penatua). Dan kriteria ini berlaku hanya untuk pemilihan Syamas, Penatua, dan Ketua Komisi Pelayan Kategorial”

Kriteria tersebut di atas, lebih khusus tentang Cerai Hidup dan LGBT disambut dengan reaksi dan resistensi yang cukup luas di kalangan jemaat-jemaat. Bahkan telah menjadi perbincangan luas oleh jemaat GMIM khususnya dan masyarakat umumnya. Reaksi dan resistensi tersebut muncul beragam dan umumnya jemaat tidak menerima/menolak kriteria tersebut dengan berbagai alasan, pertimbangan, dan tafsiran. Ragam reaksi penolakan tersebut dapat dilihat juga di berbagai jaring media massa bahkan media sosial yang berkembang beberapa pekan terakhir setelah Juklak disosialisasikan kepada jemaat.

Bahkan, dari reaksi dan resistensi itu belakangan ini muncul dampak psikologis berupa : Keluarga jemaat GMIM yang terkait kriteria cerai hidup dan LGBT secara psikologis menjadi malu, terisolir, dan merasa dikucilkan direndahkan sebagai angota jemaat. Anak, cucu, orang tua, dan keluarga dari anggota sidi yang terkena kriteria cerai hidup dan diduga terkait LGBT ikut menerima dampaknya, menjadi malu dan terisolir di lingkungan jemaat. “Terus terang kami malu, kami dipermalukan oleh gereja yang kami cintai” ungkap seorang warga jemaat. “Anak saya bertanya dengan polos, torang so nembole jadi GMIM dang”?

Simpati dan empathy terhadap keluarga yang terkait dua kriteria tersebut juga bermunculan dari jemaat GMIM diberbagai forum termasuk di media sosial dan diskusi-diskusi jemaat. Mereka menyesalkan dua hal sensitive itu bahkan mereka ikut bereaksi dengan berbagai pandangan. Inilah beberapa ungkapan simpati dan empathy jemaat atas keluarga yang terkena aturan tersebut :

1. “Kenapa GMIM menikahkan orang yang cerai hidup”?

2. “Kenapa GMIM membaptis anak-anak produk cerai hidup dan kenapa GMIM meneguhkan sidi baru anak anak dari keluarga cerai hidup”?

3. “Kenapa GMIM melayani sakramen perjamuan dan batisan jemaat yang mungkin terkait LGBT”?

4. “GMIM harus mengeluarkan aturan tidak bisa menikahkan pasangan cerai hidup”?

5. “GMIM harus mengeluarkan aturan tidak melayani sakramen pabtis dan peneguhan sidi baru dan sakramen perjamuan jemaat dari keluarga cerai hidup”?

6. “GMIM kan hanya punya dua sakramen baptis dan perjamuan. Sedangkan pernikahan bukan sakramen”?

7. “Kenapa GMIM menerima diakonia dan derma dari keluarga cerai hidup dan yang keluarga yang mungkin terkait LGTB”?

Reaksi meluas dan dampak yang sudah muncul akibat kedua hal sensitive dalam Juklak Pemilihan tersebut menurut hemat kami dapat memberi akibat yang berkelanjutan dan menjadi beban dan tantangan serius GMIM akan datang. Keluarga yang terkena aturan tersebut akan menjadi anggota jemaat pasif terkucil dan bisa berlanjut dengan berpindah denominasi gereja karena mereka merasa sebagai “warga jemaat pinggiran” dengan hak-hak yang dibatasi.

Berkenaan dengan hal hal tersebut di atas, izinkan kami selaku warga jemaat GMIM mengusulkan dan bermohon dengan sangat kepada BPMS GMIM untuk dapat : “Membatalkan Kriteria Bakal Calon Syamas dan Penatua Khususnya Point Cerai Hidup dan LGBT Sebagaimana Tertuang Dalam Juklak Pemilihan Calon Syamas dan Calon Penatua Tahun 2017/2018”.

Kami sungguh berharap BPMS GMIM dapat mencermati dengan arif dan bijaksana semua reaksi dan dampak yang muncul di kalangan jemaat dan masyarakat terkait persoalan kriteria cerai hidup dan LGBT yang sedemikian mendapat reaksi luas dari jemaat. Kami percaya, pembatalan kedua point kriteria tersebut akan kembali memberi suasana kondusif dan sukacita jemaat menghadapi momentum panggilan pemilihan GMIM di semua aras.

Usulan dan permohonan ini kami sampaikan sebagai wujud kepedulian dan kecintaan kami pada perjalanan GMIM saat ini dan akan datang. Semoga Tuhan Yesus Kepala Gereja Monolong Kita Sekalian.

Salam dan hormat kami.
(15 anggota jemaat GMIM sudah bertanda tangan). (red)

Subscribe to Comments RSS Feed in this post

2 Responses

  1. Di dalam GMIM tidal ada kasih lagi, karena hanya memikirkan/mementingkan keduniawian. Itulah yang akan mengakibatkan kehancuran Gereja. Karena mereka (para anggota BPS) Sudan tidal mengandalkan pelayanan seperti yang Tuhan Yesus ajarkan. Karena yg kits tahu bersama bahwa Tuhan Yesus tidak pernah memilih-milih siapa yang mau datang kepadaNya.

  2. Banyak Pendeta yang lebih priority pada bisnis, dukungan politik, pilih kasih dan maaf pamer via medsos. tidak menampakkan oranng utusan Tuhan yang bersahaja.
    Kalau di mimbar luar biasa. kata2 khotbah dan nasihat sangat alkitabiah, namun pengkhotbah itu sendiri tidak mengaplikasikannya dan otomatis tidak bisa menjadi teladan.
    Bahkan keserakahan para pemimpin gereja sangat nampak di mata jemaat, tapi mereka berpura2 tdk tahu seolah-olah jemaat tidak tahu.
    Semoga Tuhan mengampuni para Pendeta kami. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*