Jum'at, 23 Agustus 2019

JAS: Calon Tunggal di Pilkada Mitra Mencerminkan Parpol Miskin Kader

 

mitramanadoterkini.com, SULUT - Terdaftarnya calon tungal di Pilkada Mitra Sulut James Simendap dan Jocke Legi pada 8 Januari 2018 di KPU Mitra yang merupakan petahana Bupati Minahasa Tenggara dinilai sebagai kemunduran berpolitik dan berdemokrasi sehingga mencerminkan Partai Politik di Minahasa Tenggara miskin kader sehingga memunculkan calon tunggal.

Fenomena ini menunjukkan bahwa partai politik belum mampu menyiapkan kadernya dalam mengikuti kontestasi politik di kabupaten Mitra. “Demokrasi seperti ini tidak sehat, elite politik kita belum siap berkompetisi dan belum siap untuk kalah,” kata Johny Alexander Suak, selasa (9/1/2018).

Ia mengatakan kondisi seperti ini justru tidak memberikan pendidikan politik yang baik untuk warga Mitra. “Elite partai politik dinilai menunjukkan sifat pragmatis yang tidak siap kalah dalam kontestasi politik pilkada,” beber mantan anggota Bawaslu Sulut ini.

Dari sisi masyarakat, selama ini mungkin warga Mitra belum siap berpolitik dan masih melihat petahana sebagai yang terbaik. Ini menunjukkan bahwa ada keterbatasan akses warga untuk mendapatkan informasi yang berimbang.

Untuk itu kedepan partai politik harus membuka akses-akses seperti sosialisasi dan promosi politik kepada masyarakat. Elemen yang didorong untuk sosialisasi partisipasi masyarakat selain parpol yaitu media lokal dan organisasi masyarakat dan tokoh masyarakat harus bahu membahu.

Namun fenomena calon tunggal di Pilkada Mitra adalah yg pertama kali dalam sejarah perhelatan pilkada di provinsi Sulut. Ini membuktikan bahwa JS sang petahana sebagai aktor tunggal di Pilkada Mitra telah dapat mempengaruhi sebagian besar elit parpol untuk mengusung dan mendukungnya tercermin 25 Anggota Dewan di Kabupaten Mitra tinggal 1anggota dewan yaitu dari partai nasdem yang tidak mendukung.

“Sehingga menurut saya, calon petahana tersebut memang memiliki prestasi dan kinerja baik, dan petahana sebagai calon Bupati Mitra sangat mengakar pengaruhnya. Namun fenomena Parpol di Mitra yg miskin kader ini, menurut saya selain tidak sehat bagi demokrasi dan pendidikan politik warga Kabupaten Minahasa Tenggara. Partai Politik, telah gagal menciptakan dan mendidik calon pemimpin ,” jelasnya. (red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*