Bedah Buku ODSK, Milenial Diminta Kritis Terhadap Kebijakan Pemerintahan

jam sulutmanadoterkini.com, SULUT – Sejumlah aktivis, mahasiswa hingga LSM menghadiri bedah buku ODSK di Grand Puri Hotel Manado, Rabu (25/11/2020).

Peserta Beda Buku ODSK diikuti yang antara lain dari Gerakan Mahasiswa “Cipayung”, Perwakilan GMKI, PMKRI, HMI dan Perwakilan Pemuda Lintas Agama dari Ansor, PMK, Pemuda Mumahadiyah, Pemuda Hindu, Pemuda Konghuchu, BEM Mahasiswa Unsrat, Unima  dan BEM UKIT Tomohon memberikan masukan terhadap bumu tersebut.

Namun diskusi bedah buku ‘Moving Forward: Memahami Revolusi Mental dan Politics of Hope Dalam Kepemimpinan Aksi Nyata dan Tata Kelola Pemerintahan ODSK’ terbilang menarik saat para mahasiswa yang adalah milenial ditantang memberikan ide-ide kritisnya.

Selain diikuti para mahasiswa dan generasi milenial Sulut, diskusi bedah buku ODSK inipun menghadirkan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI), Arjuna Putra Aldino sebagai pembicara.

Selain Ketua Umum DPP GMNI, Arjuna hadir pula Adrian Yoro Naleng (Penulis Buku), Rivan Kalalo (Penanggap) dan Risat Sanger (Moderator).

Ketua Jaringan Anak Milenial (JAM) Revolusi Mental Sulut, Josua Liow memberikan apresiasi atas diskusi bedah buku ODSK, yang diikuti dengan antusiasme tinggi para mahasiswa dan generasi milenial Sulut.

“Dengan kegiatan diskusi bedah buku ini, kita sebagai generasi milenial diajak untuk lebih mengenal Tata Kelola Pemerintahan, termasuk proses pengambilan keputusan serta kebijakan yang telah bertransformasi pada semangat Revolusi Mental,” kata Josua Liow.

Liow pun berharap, diskusi inipun membuka cakrawala pemikiran dan menambah pengetahuan bagi generasi milenial agar bisa bersikap bijak dan logis dalam melihat kondisi masyarakat dewasa ini.

Sementara, Arjuna Putra Aldino memberi apresiasi kepada Adrian Yoro Naleng, penulis Buku ODSK.

Menurut Arjuna penulis telah memberikan sumbangsih pemikiran berdasarkan riset terkait Kepemimpinan Aksi Nyata dan Tata Kelola Pemerintahan OD-SK (Olly Dondokambey dan Steven OE Kandouw) pada periode pertama memimpin Provinsi Sulawesi Utara.

Ia menilai bahwa Kepemimpinan OD-SK memberikan ruang yang luas, bagaimana berdemokrasi sesuai tata nilai yang benar.

Kata Arjuna, dalam buku tersebut ada begitu banyak ide dan gagasan yang bertransformasi pada tata kelola pemerintahan  sehingga para birokrat pun ikut melahirkan ide dan gagasan yang inovatif, mengimbangi jalannya roda pemerintahan.

“Di sinilah muncul perubahan karakteristik kerja birokrasi yang berlandas pada semangat revolusi mental, bagaimana OD-SK membawa birokrat maju bersama menjalankan roda pemerintahan yang baik,” jelas Arjuna.

Arjuna juga melihat realita kepemimpinan OD-SK yang tetap menjaga, merawat dan memelihara toleransi yang menjadikan Sulawesi Utara sebagai Provinsi yang tinggi semangat toleransi di Indonesia.

“Sulawesi Utara merupakan provinsi dengan tingkat toleransi tertinggi di Indonesia. Ini merupakan capaian yang luar biasa ditengah iklim politik dipenuhi oleh politics of fear. Maka Sulawesi Utara perlu mempertahankan kepemimpinan yang berbasis politics of hope, agar kita bisa terus melihat Sulawesi Utara yang penuh dengan filosofi torang samua basudara,” terang Arjuna.

Rivan Kalalo selaku penanggap Buku ODSK, menilai pentingnya masyarakat memiliki buku tersebut, agar bisa memahami cara mengelola pemerintahan.

“Disini kita bisa mengetahui bagaimana pemerintahan OD-SK memberikan banyak terobosan, baik lobi anggaran di pusat maupun membangun bandara Sam Ratulangi sebagai kargo ekspor bahan produk daerah ini ke negara luar (Jepang dan Cina). Demikian pula dengan Pelabuhan Bitung,” kata Kalalo.

Namun iapun meminta, generasi muda harus memiliki sikap kritis atas kebijakan-kebijakan pemerintah agar pemerintah bisa berbuat yang terbaik bagi masyarakat Sulut.

Dalam diskusi Bedah Buku ODSK inipun sempat disentil terkait nasib para petani Cengkih.

Ia berharap, pemerintah ODSK terus mencari solusi atas masalah petani cengkih.

Meski pada kenyataannya Arjuna menilai bahwa nasib petani cengkih Sulut tidak terlepas dari aksi monopoli BPPC di masa Orde Baru. (*/Rizath)

Bedah buku Generasi Milenial Sulut ODSK

Posting Terkait

Tinggalkan pesan