Puluhan siswa di Manado terlantar, Program Merger terlampau Habat

Nasib pilu piluhan siswa SD 114 Manado di hari pertama tahun ajaran baru 2022-2023

Laikun
Wakil Ketua DPRD Adrey Laikun saat bertemu para murid SD 114 yang mayoritas kelas 5 dan 6.

manadoterkini.com, MANADO – Program merger sekolah di Kota Manado, sudah sangat meresahkan warga. Anehnya, meski mendapat penolakan keras, Pemerintah Kota Manado dalam hal ini Wali Kota Andrei Angouw seakan memandang sebelah mata persoalan ini.

Terbukti, nasib pilu harus dirasakan puluhan siswa-siswi dan orang tua dari SDN 114 Manado, di hari pertama sekolah tahun ajaran baru 2022/2023, terlantar di Kantor DPRD Manado, Senin (11/7/2022).

Padahal memasuki tahun ajaran baru harusnya memberi semangat baru bagi siswa-siswi di Kota Manado, namun ternyata yang terjadi malah sebaliknya.

Masni Hamzah, salah satu orang tua Murid mengatakan mereka sempat menunggu pihak Dinas Pendidikan di sekolah, namun tak kunjung datang.

“Kasihan nasib anak-anak kami ini. Padahal mereka (siswa,red) SDN 114 sejak pukul 07.00 pagi sudah berada di sekolah, tapi tidak ada proses pembelajaran seperti biasa,” ujarnya.

Bahkan perkataan Kepala Dinas Pendidikan Deasy Lumowa untuk mendatangkan kepala bidangnya agar bertemu dengan para orang tua murid di Kantor DPRD tidak terwujud.

Padahal, sekira Pukul  12:30, Kadis Deasy Lumowa yang menerima telepon dari Wakil Ketua DPRD Adrey Laikun mengatakan akan mengutus langsung kepala bidangnya untuk berbicara dengan orang tua murid.

Namun disayangkan, hingga pukul 14:15 atau 2 siang, kepala bidang yang dimaksud tidak kunjung datang. Hal ini pun membuat orang tua murid kecewa.

“Dari pagi sampai sekarang ini kami tunggu Kabidnya katanya mau datang tapi sekarang ini bagaimana. Sedangkan Pak Adrey saja tiga kali kami datang diterima dengan tangan terbuka menerima aspirasi kami, tapi mengapa dinas ini sulit sekali bertemu kami,”keluh Masni Hamzah salah satu orang tua murid.

siswa
Para siswa SD 114 Manado yang terlantar di halaman DPRD Manado

Orang tua murid lainnya, Husni Tamatompol mengaku psikologis anak-anak mereka sangat terganggu dengan adanya kebijakan merger tersebut.

“Tidak ada sosialisasi sama sekali dari pihak dinas Pendidikan untuk melakukan merger,” ungkapnya.

Lanjutnya mengatakan, seluruh orang tua murid SDN 114 menolak keras rencana merger tersebut.

“Keadaan gedung di SD 49 itu tidak layak untuk menampung murid tiga sekolah sekaligus (SD 114, 49 dan 74). Sedangkan gedung SD 114 dimana anak-anak kami sekolah itu layak,”tuturnya.

Untuk itu, agar permasalahan merger tersebut selesai dan punya jalan keluar, ia meminta Dinas Pendidikan mau bertatap muka dengan para orang tua murid.

“Saya minta Kabid yang ada untuk datang sosialisasikan ke kami terkait merger ini, supaya ada solusi, supaya anak-anak kami ada kejelasan,”pungkasnya menambahkan kedatangan mereka ke DPRD Manado murni dari hati nurani mereka sendiri.

Setelah berjam-jam menunggu pihak Dikbud Manado di halaman Kantor DPRD, para siswa dan orang tua murid, akhirnya langsung difasilitasi Wakil Ketua Adrey Laikun dengan menampung di ruang paripurna.

“Kasihan anak-anak ini, mereka mau sekolah tapi belum ada kejelasan. Kalau begini efeknya ke anak-anak, apalagi SD ini pendidikan dasar, bekal bagi masa depan mereka. Karena itu saya harap dinas terkait dan orang tua murid bisa duduk bersama menyelesaikan masalah ini,”tukas Politisi NasDem ini. (*/aldi)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.