AIRMADIDI, (manadoterkini.com) – Salah satu oknum pejabat tinggi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Minahasa Utara (Minut) melakukan pengancaman terhadap salah satu bawahanya jika tidak mau ML.

Pada awalnya MD alias Meydi (40), memaksa korban MT (38) untuk melakukan Hubungan intim di dalam ruangan kerja MD, namun korban mengelak bahkan korban memberontak, di dalam ruang tersebut, beruntung korban bisa melepaskan diri dari cengraman pelaku.

Dalam melancarkan aksi tersebut, MD mengancam tidak akan menandatangani Surat Keputusan (SK) 100 persen Pegawai negeri Sipil (PNS), korban jika tidak menuruti kemauannya.

Hal ini, sempat menghebokan sejumlah pegawai yang bekerja di PDAM Minut, bahkan sesuai dengan informasi yang masuk bahwa pada akhir tahun kemarin pihak PDAM telah mengeluarkan surat pemecatan.

“Tindakan tersebut telah dilakukan pada bulan Desember kemarin, sehingga membuat hebo seluruh pegawai yang ada, bahkan pada pertengahan bulan tersebut pihak PDAM melalui direktur yang memimpin kala itu mengeluarkan surat pemecatan, namun pemecatan dirinya hanya berlangsung beberapa hari saja kemudia oknum pejabat tersebut kembali bekerja seperti biasa,”tandas salah satu oknum pegawai yang tak mau namanya di mediakan.(fenjjel)

AIRMADIDI, (manadoterkini.com) – Ketua DPP Harian Pelopor Angkatan Muda Indonesia (PAMI) Maikel Tielung, saat ditemui di ruang kerjanya Senin (17/11), mengungkapkan, Pelaksanaan proyek refitalisasi/pekuatan struktur jalan Likupang – Wori 1, tahun 2014 dengan total anggaran 18.9 Miliar lebih tak sesuai dengan bestek.

“Pekerjaan yang di kerjakan oleh PT . Mykanta, pada tahun anggaran 2014 ini tak sesuai bestek, pasalnya dalam pelaksanaan pekerjaan tersebut ada beberapa item yang di kerjakan tak memenuhi standa,” tuturnya.

Dikatakannya, melihat kondisi pekerjaan baik pasangan batu untuk tanggul hingga keteblan aspal yang tak sesuai dengan aturan, hal ini menimbulka kontrofersi di lapangan.

“Pasangan batu yang di gunakan untuk pembangunan tanggul yakni batu bercampur dengan lumpur di tambah campuran yang di gunakan satu banyak,”ungkapnya.

Sesuai dengan informasi yang di terima di lapangan, pihak PT Mykanta pun telah diduga melakukan tintakan yang telah melanggar aturan dengan melakukan penambangan liar untuk timbunan jalan.

“Dengan kondisi ini kami berharap pihak aparat penegak hokum untuk dapat turun menyelidiki permasalahan tersebut,”tandasanya.(fenjjel)

Proyek Aliran Sungai Desa Sarawet Diduga Asal Jadi

Proyek Aliran Sungai
Tanggul Aliran Sungai

AIRMADIDI, (manadoterkini.com) – Proyek pembangunan tanggul aliran sungai yang terletak di Desa Sarawet, Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara (Minut) tahun 2013 kemarin terkesan asal jadi.

Pasalnya, pelaksanaan proyek yang dikerjakan oleh Cv. Makmur Jaya Bangun pada tahun 2013, dengan menelan anggaran 180 juta ini telah rusak. Bahkan sesuai dengan informasi yang diterima dari warga sekitar proyek tersebut dikerjakan tak sesuai dengan bestek.

Proyek Aliran SungaiKetua DPP Harian Pelopor Angkatan Muda Indonesia (PAMI) Maikel Tielung, menjelasakan melihat kondisi yang terjadi dilapangan proyek tersebut dikerjakan tak sesuai dengan RAB yang telah disepakati.

“Belum memasuki satu tahun pekerjaan bangunan yang telah di bangun sudah ambruk, ada kemungkinan dalam mengerjakan tanggul tersebut, menggunakan campuran satu banyak,”tuturnya.

Lanjut Tilung, hal ini menunjukan kurangnnya pengawasan dari pihak penyelenggara dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum (PU) Minut.

“Jika ada pengawasan yang baik pasti tanggul tersebut tak akan roboh, hal ini harus di tindak oleh pihak yang berwajib agar tak akan terjadi kembali di Minut,”tandasnya.(fenjjel)

AIRMADIDI, (manadoterkini.com) – Pelaksanaan proyek pembuatan bronjong di bantaran sungai Desa Kuala Batu yang berbandrol Rp 2 Miliar lebih diduga bermasalah. Pembangunan bronjong yang berada di Desa Kuala Batu tercatat dilaksanakan sejak bulan Agustus dengan menggunakan anggaran Badan Penanggualangan Bencana Daerah (BPBD) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Minahasa Utara (Minut), hingga saat ini tak kunjung selesai. Bahkan sesuai informasi yang beredar pekerjaan tersebut tak sesuai dengan bestek.

“Proyek yang menelan anggaran Rp 2 M lebih, dari BPBD Pemkab Minut, untuk membangun bronjong di desa Kuala Batu kecamatan Likupang Barat tersebut diduga bermasalah,” tutur Ketua DPP Harian PAMI Maikel Tilung SE, SH, Kamis (13/11).

Dikatakannya, pelaksanaan proyek tersebut sempat terhenti pasalnya sejumlah warga yang ikut bekerja dalam proyek tersebut tak di bayar upahnya.

“Gimana pekerjaannya bisa berlanjut, pihak ketiga dalam hal ini kontraktor pelaksana tak membayar upah kerja pegawai sehingga menimbulkan kemarahan bagi warga setempat yang ikut bekerja melaksanakan proyek tersebut,”tuturnya.

Diungkapkannya, pelaksanaan proyek tersebut telah berlangsung cukup lama namun hingga saat ini tak kunjung selesai.“Proyek yang berlangsung sejak pertengahan tahun berjalan ini, tak kunjung selesai, bahkan ada beberapa aitem pekerjaan tak sesuai dengan bestek pekerjaan,” papar Tilung.

Lanjut, dalam proses pelaksanaan pekerjaan untuk posisi kedalaman pondasi tak sesuai dengan acuan pelaksanaan proyek. “Untuk kedalaman pondasi yang seharusnya 1,5 Meter, pihak ketiga hanya mengerjakan 1 meter sementara untuk, pondasi kedua hanya di kerjakan 0,5 meter, diperkirakan bronjong tersebut tak akan bertahan lama,”tandasnya. (fen)

AIRMADIDI (manadoterkini.com) – Pelaksanaan sejumlah proyek pembangunan Minahasa Utara (Minut) 2014, yang dikontrakkan kepada pihak ketiga awal Agustus kemarin terancam tak akan selesai akhir tahun. Pasalnya, hingga saat ini pencapaian prosentase pekerjaan baru berkisaran 60 hingga 70 persen.

Ketua DPP Harian PAMI Maikel Tilung SE, SH, mengungkapkan, sejumlah proyek pembangunan yang berbandrol diatas 1 miliar terancam tak akan selesai tepat waktu. “Pelaksanaan proyek Minut untuk pembangunan kantor Dinas Kesehatan, pembangunan Rumah Dinas Bupati, Rumah Dinas Wakil Bupati hingga pembangunan kantor Pengadilan Negeri Kabupaten Minut, diperkirakan tak selesai, menginggat hingga saat ini pencapaiannya baru berkisaran 60 hingga 70 persen,”tuturnya, Kamis (13/11).

Dikatakannya, untuk pelaksanaan proyek pembangunan kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Minut, yang baru mencapai 70 persen ini, masih jauh dari target prosentasi pekerjaan.“Seharusnya, untuk saat ini proyek tersebut harus mencapai 80 persen, dan anehnya lagi pelaksanaan proyek tersebut tak diawasi oleh dinas terkait,”ungkap Tilung.

Disamping itu, sejumlah proyek yang ada di Minut diduga tidak sesuai dengan standar keselamatan pekerja.“Untuk saat ini rata-rata proyek yang bergerak di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) sudah bekerja sama dengan BPJS untuk menjamin keselamatan pekerja. Sementara untuk Minut sendiri, sejumlah pihak ketiga sebagai pelaksana pekerja tak menjamin keselamatan pekerjaannya,”tegas Tilung.

Lanjut, ini perlu ada perhatian dari pemerintah khususnya dinas tenaga kerja agar bisa mengawasi keselamatan para buru bangunan yang berada di Minut.“Dinas Tenaga Kerja Minut harus menindak dan bekerja ekstra untuk memperhatikan keselamatan pekerja,”tandasnya.(fen)

AIRMADIDI, (manadoterkini.com) – Pelaksanaan proyek Jalan akses Airmadidi-Tondano terkesan amburadul. Pasalnya, sejumlah jalan yang baru dikerjakan 2014 mulai rusak baik yang ada di Sawangan maupun yang ada di Tonsea Lama.

Ketua LSM Lip Tipikor Husein Masloman menjelaskan, pelaksanaan proyek yang ada di akses jalan Airmadidi ke Tondano terkesan aburadul. Dimana pelaksanaan proyek perbaikan jalan yang dilakukan pada 2014 ini dengan lokasi yang berbeda kini mulai rusak keduanya.

“Kualitas pekerjaan pengaspalan jalan yang ada di Sulawesi Utara kian hari kian menurun, lihat saja jalan yang ada di Tonsea lama yang melintasi lokasi wisata goa jepang yang ada kini telah rusak meski pengerjaan baru dilakukan pada tahun ini, selain itu juga yang ada di ujung perkampungan desa sawangan, belum selesai di kerjakan kok suda rusak juga,”tuturnya.

Dikatakan Masloman, Pelaksanaan proyek yang ada di Sawangan selain jalannya yang mulai retak, ditambah juga drainasenya yang sudah ambruk meski pengerjaan baru dilakukan pada beberapa bulan kemarin ditambah juga pelaksanaan pembuatan marka jalan yang terkesan taksesuai bestek.

“Pelaksanaan proyek yang dikerjakan Satker Wilayah 4 ini memang terkesan amburadul, gimana tidak marka jalan seperti dikerjakan orang yang mabuk, drainase sudah mulai ambruk ditambah jalan sudah berlobang-lobang, ini tergambar bahwa tak adanya pengawasan dari Balai Pembangunan Jalan Dan Jembatan Nasional (BPJN) II Wilayah Sulawesi Utara – Gorontalo,”tuturnya.

Lanjut, selain khusus yang ada di tonsea lama sendiri sekarang sudah rusak.”Gimana baru di aspal sudah rusak ditambah ketemabalannya masi di pertanykan, sesuai informasi jalan tersebut sudah di PHO oleh pelaksana,”ungkapnya.

Saat dikonfirmasi wartawan pihak PPK baik BPJN maupun Dinas PU Provinsi keduanya mengelak bahwa proyek tersebut bukan milik mereka. Bahkan mereka selalu mengelak, meski papang tersebut benar-benar terpampang proyek tersebut milik BPJN dan Dinas PU Provinsi Sulut.

“Proyek yang ada di Airmadidi-Tondano selain saya (red, Sandra Lengkong) juga ada bapak Rio, jadi itu bukan punya saya tannya kan ke bapak Rio,”tutur Sandra Lengkong PPK BPJN II Suluttenggo, saat di wawancarai fia hand phone.

Lanjut Lengkong, untuk saat ini dirinya bekerja di Dinas PU Provinsi sudah tidak Lagi bekerja di BPJN.”Saya sudah menangani APBD sudah tidak lagi APBN,”imbuh.

Disisilain, hal serupa juga dinyatakan Rio fia hand phone.”Cobatanya ke ibuk sandra mungkin itu proyek ibu sandra,”tandasnya.

Disisilain sesuai dengan pembagian pelaksanaan proyek jalan, untuk jalan Airmadidi-Tondano, masuk ke lokasi pekerjaan BPJN II Sulut Tenggo, namun hingga saat ini Kepala BPJN II Sulut Tenggo sulit untuk di temui pasalnya selalu sibuk di kantor bahkan humas pun tak memberikan pernyataan terkait masalah tersebut.(fen)