manadoterkini.com, AMURANG – Cuaca ekstrim masih akan melanda sejumlah wilayah di  Sulawesi Utara teramasuk Minahasa Selatan. Makanya, curah hujan dengan intensitas tinggi akhir-akhir ini membuat sejumlah titik di wilayah Minsel menjadi rawan bencana. Hal ini diungkapkan Bupati Christiany Eugenia Paruntu SE melalui Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Minsel Handri Alo Komaling SH.

“Hingga akhir bulan ini, sesuai data yang rilis BMKG, untuk wilayah Minsel diperkirakan akan diguyur hujan di atas rata-rata, yakni sekira 200 mm,” kata Komaling.

Untuk itu, kepada warga masyarakat diharapkan tetap waspada. Apalagi, wilayah Minsel memang merupakan daerah dengan tingkat resiko bencana alam cukup tinggi.

“Secara geografis, wilayah Sitaro rentan terjadi bencana alam, baik longsor, hingga banjir akibat luapan air disejumlah kuala. Jadi kewaspadaan dini mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana harus ditingkatkan,” ujarnya lagi seraya menambahkan warga waspada dengan kondisi penghujan seperti ini dan apabila turun hujan lebih dari satu jam, warga yang berdomisili di seputaran bantaran kali serta kawasan rawan longsor, segera mengungsi ke tempat yang aman.

Seperti diketahui, beberapa waktu lalu, sejumlah wilayah di Minsel seperti di Minsela dan Suluun Tareran serta Desa Sapa diterjang tanah longsor dan Banjir, yang mengakibatkan sejumlah rumah di Suluun tertimbun tanah longsor serta di Desa Sapa Kecamatan Tenga tergenang air. Namun tidak sampai menelam korban jiwa.(dav)

Singkirkan Longsor, BPBD Minsel Sewa Alat Berat

minselmanadoterkini.com, AMURANG-Miris. Kendati Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) masuk daerah rawan longsor, namun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Minsel belum menyediakan alat berat. Untuk menyingkirkan longsoran tanah yang menutupi jalan raya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Minsel harus menyewa alat berat.

“Kalau ada bencana, kami harus sewa alat berat, sebab kami tidak memiliki fasilitas itu,” kata Kepala BPBD Minsel Handrie Allo Kindling SH.

Seperti yang digunakan di jalan Desa Tondei Kecamatan Motoling Barat. BPBD Minsel harus menghubungi pihak ketiga saat menyingkirkan longsoran tanah yang menutupi jalan itu.

“Tidak ada jalan lain, selain menggunakan alat berat pihak ketiga,” ujarnya.

Baru-baru ini, Minsel juga diterjang bencana longsor di Kecamatan Suluun Tareran (Sultra).

Menurut Camat Sultra Veky Rondonuwu SPd telah terjadi bencana tanah longsor di Desa Suluun Raya.

“Desa Suluun Satu ada 2 lokasi yang parah, yakni di Jaga II, yang menimpa Keluarga Loho Rantung. Jaga IV di Keluarga Meity Runtuwene. Desa Suluun Dua di Keluarga Sumual Kamu sedangkan di Desa Suluun Tiga terjadi di Jaga II Keluarga Lantang Tumober, Jaga V Keluarga Pomantow Kowal dan di Pastori GMIM Kamang, serta jalan penghubung Suluun Talaitad,” papar Rondonuwu.

Dia mengatakan sudah melaporkan kejadian itu ke BPBD Minsel dan Dinas PU. “Longsor di tiga desa Kecamatan Sultra sudah laporkan ke instansi terkait. Informasi dari BPBD, Bupati Christiany-Eugenia Tetty Paruntu langsung perintahkan instansi terkait meninjau dan memberikan bantuan,” tandasnya.(dav)

BNPB dan Pemkab Minsel Gelar Lomba Seni dan Budaya

lomba seni budayamanadoterkini.com, AMURANG-Pasca bencana alam yang terjadi pada tahun 2014 lalu yang mengakibatkan kerugian bagi ratusan masyarakat yang ada di Kabupaten Minahasa Selatan.

lomba seni budayaBadan Nasional Penangulangan Bencana (BNPB) Pusat dan Pemkab Minsel yakni Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Minsel pada Rabu (24/8) ini menggelar aneka lomba seni dan budaya yang dipusatkan di pantai boulevard Cambiow Amurang. Perlombaan yang melibatkan para peserta dari SKPD, SD, SMP dan SMA/SMK dan Masyarakat se-Kabupaten Minsel.
Lomba tersebut digelar guna untuk

meningkatkan rasa toleransi dan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat serta menumbuhkan kembali semangat, motivasi, dan kepercayaan diri masyarakat terdampak bencana.

“Kegiatan ini juga bertujuan untuk memulihkan trauma masyarakat setelah terjadi bencana. Melalui kegiatan ini kita sekaligus memulihkan kehidupan perekonomian masyarakat terdampak bencana. Lomba seni budaya secara efektif ini juga dilaksanakan untuk menghibur dan mengembalikan rasa percaya diri terhadap masyarakat yang terkena bencana. Pun dapat memberikan kesempatan warga terdampak bencana untuk dapat mengekspresikan diri dan perasaannya, serta jadi sarana komunikasi antar warga yang terpisah,” ujar Kepala BPBD Minsel Handrie Alo Komaling SH kepada manadoterkini.com disela – sela acara tersebut.
Hal senada disampaikan Kepala Disparbud Minsel Sonny Maleke.

Dia menjelaskan bahwa, kegiatan-kegiatan lomba yang dilaksanakan yakni lomba figura, goyang dodol, bintang vokalia bahasa daerah, dewasa, anak-anak, beberapa tari dan budaya seperti Maengket, Kabasaran, Maakaruyen, Kolintang, Tarian Kreasi Baru, dan lawak Mongol.
“Ini kegiatan yang luar biasa, semua yang terlibat akan mendapatkan hadiah tropi dan uang pembinaan, juga piagam,” tambahnya.

Sementara itu, ditempat terpisah, Konsultan Dyah Ayu Harfi berharap, dengan adanya kegiatan tersebut, bisa memulihkan perekonomian yang sempat terkena musibah bencana.

“Selain ini merupakan acara tahunan, gelar budaya ini diperlukan peran pers. Karena lewat pemberitaan masyarakat bisa mengetahui bagaimana Minsel itu,” harapnya.(dav)

manadoterkini.com, AMURANG-Hampir seluruh wilayah Sulawesi Utara (Sulut) termasuk Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) diguyur hujan. Intensitas hujan mulai dari hujan ringan hingga disertai angin mengakibatkan sejumlah titik rawan longsor dan banjir, lebih waspada.

Pantauan manadoterkini.com, wilayah sekitar pantai di Amurang, membuat warga yang mayoritas nelayan was-was. Bagaimana tidak, gelombang air terus naik bahkan menghantam gelombang setinggi 6 meter.

Warga yang berdomisili dikawasan pesisir pantai tersebut, sempat ketakutan.  “Memang sejak tadi malam, torang melihat gelombang tinggi menghantam penangkal ombak, kami melihat juga hantaman ombak airnya hingga ke badan Jalan. Torang agak ketakutan,” ujar Doan Runtuwene warga pesisir pantai Kelurahan Bitung Amurang.

Sementara itu, Kepala BPBD Minsel Handrie Allo Komaling SH mengaku bahwa, pihaknya hingga kini belum menerima laporan terkait bencana.
“Ada beberapa kejadian yang terjadi di Minsel hingga saat ini yang melapor kejadian longsor di Kelurahan Pondang, gelombang pasang Keluraham Ranomea dan Ranoiapo. Perahu rusak dan motor tempel 25 PK milik nelayan hilang terbawa arus,” ujar Komaling kepada manadoterkini.com Rabu (22/6) siang tadi.

Disisi lain, pemerintah desa diharapkan kerja cepat merespon bencana yang terjadi.
“Kami juga meminta kepada aparat Desa pro aktif melaporkan, jika ada bencana yang terjadi,” tutupnya.(dav)

manadoterkini.com, AMURANG – Proyek Pemecah Ombak di Kelurahan Ranoiapo Kecamatan Amurang menurut warga mubazir.

Proyek yang menelan anggaran sekitar Rp 4,4 miliar tersebut tidak dikerjakan seutuhnya dan bisa mengancam 25 rumah penduduk yang ada dipesisir pantai.

“Kami minta Pemerintah dalam hal ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Minsel menambah volume pembangunannya agar bisa tersambung, jangan hanya sebagian yang dibuat, karena bisa mengancam nyawa penduduk pesisir,” ujar Robby Ottay warga Kelurahan Ranoiapo, yang juga salah satu pemilik rumah dipesisir pantai.

Hal senada disampaikan Yulius Mononimbar warga yang sama. Dirinya mempertanyakan proyek pengaman pantai yang dibangun beberapa waktu lalu dengan anggaran 1 Miliar bisa membangun tanggul pamecah ombak dengan volume sampai panjang 100 meter. Sedangkan proyek pemecah ombak yang berbandrol Rp 4,4 Miliar ini, hanya 180 meter.

“Bukannya bestek pengerjaannya sama, tapi mengapa panjang pengerjaanya terkesan tak mencapai setengah dari proyek pengerjaan beberapa waktu lalu,” tandas Mononimbar.(dav)

MTerkini.com, AMURANG – Bupati Christiany Eugenia Paruntu SE mengimbau kepada warga Minahasa Selatan (Minsel) untuk mewaspadai bencana alam yang berpotensi terjadi selama musim hujan dengan melakukan upaya antisipasi seperti membersihkan saluran air dari sampah, dan tidak membuang sampah ke sungai.

“Saat ini Minsel sudah masuk musim hujan, kita tidak lagi kekeringan. Tapi, kita harus waspada, musim hujan datang, tidak saja membawa berkah tapi juga kemungkinan terjadi bencana, kalau tidak kita antisipasi bersama-sama,” ujar Tetty sapaan akrab bupati Minsel ini.

Lanjut Dia mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan. Seperti di wilayah sungai Ranoyapo, Ranowangko, dan sungai lainnha termasuk salah satu kawasan rawan bencana banjir dan longsor.

“Salah satu hal terkecil yang dapat kita lakukan dan menjadi contoh bagi warga lain adalah jangan buang sampah sembarangan, terutama ke sungai atau ke tempat dimana air mengalir,” katanya.

Ia mengatakan, akibat banyak sampah yang dibuang ke sungai dan tempat di mana air mengalir, akhirnya akan merugikan masyarakat karena menghambat arus sungai yang berdampak pada timbulnya banjir akibat tersumbatnya sungai atau dranaise yang ada.

“Mari kita bersama-sama menjaga kebersihan, demi lingkungan kita demi kesehatan dan keselamatan kita,” ajaknya.(dav)

Diguyur Hujan Lebat, Jalan Trans Sulawesi Kelurahan Bitung Banjir

amurangMTerkini.com, AMURANG – Hujan lebat yang menguyur wilayah Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) pada akhir-akhir ini rupanya mengakibatkan ruas jalan Trans Sulawesi tepatnya di depan SMA N 1 Amurang Kelurahan Bitung Kecamatan Amurang banjir akibat drainase yang ada di sekitar tersebut tidak mampu. Jalan yang tergenang banjir ini tingginya lutut orang dewasa.

Kepala Badan Bencana Alam Daerah (BPBD) Minsel Handrie Allo Komaling ketika dikonfirmasi via telepon seluler mengungkapkan, banjirnya jalan tersebut disebabkan drainase yang akan dilewati air tidak mampu bahkan tersumbat sampah sehingga air naik ke badan jalan.

“Hanya saja itu, kami sudah membersikannya, sehingga air kembali normal berjalan dan air yang ada di badan jalan sudah tidak ada lagi,” katanya.

Dibagian lain, dengan kondisi jalan tersebut, sejumlah pengendara yang melintasi jalur tersebut berharap pemerintah segera memperbaiki jalan yang masih menggunakan drainase tersebut, karena setiap kali musim hujan, drainase selalu tersumbat dan air langsung membanjiri badan jalan.(dav)

MTerkini.com, AMURANG – Cuaca ekstrim mulai melanda wilayah kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) belakangan ini membuat pesisir pantai di daerah ini terjadi abrasi pantai.

Bahkan terjadinya abrasi pantai mulai mengancam rumah-rumah penduduk yang berada di pesisir pantai. Seperti yang terjadi di sejumlah desa yang ada di Kecamatan Tatapaan dan Kecamatan Tumpaan serta Kecamatan Sinonsayang, abrasi pantai sudah mulai menghantam di belakang rumah-rumah penduduk. Tidak heran kekhawatiran pun mulai menyelimuti sejumlah penduduk.
“Kondisi seperti ini kami rasakan setiap akhir dan awal tahun, jadi kami tetap berada pada posisi waspada,” ujar Ronny Assa warga yang tinggal di tepi laut di Desa Sapa Kecamatan Sinonsayang.
Sementara itu, dari hasil pantauan, memang ada beberapa lokasi di pesisir pantai sebelumnya sudah dipasang pengaman berupa tanggul penangkal abrasi pantai. Namun, tanggul tersebut hanya berada di titik-titik tertentu, sehingga belum mampu mengamankan sejumlah pemukiman penduduk.
Terjadinya perubahan cuaca akhir-akhir ini membuat Kepala Badan Penaggulangan Bencana Daerah (BPBD) Minsel Handrie Komaling menghimbau kepada warga yang tinggal di pesisir pantai agar tetap waspada.
“Faktor alam tidak bisa kita prediksi. Untuk itu kami menghimbau kepada seluruh masyarakat baik yang tinggal di daerah pegunungan, dekat sungai, dan warga di pesisir pantai agar terus mewaspadai terhadap gejala-gejala alam yang kemungkinan bakal terjadi,” imbaunya, sembari mengatakan bencana alam seperti banjir, tanah longsor, angin kencang disertai badai, kapan saja terjadi, sehingga warga harus tetap berada pada posisi waspada.(dav)

AMURANG, (manadoterkini.com) – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) Handrie Komaling SH menghimbau kepada para nelayan agar mewaspadai cuaca alam yang mulai ekstrim. Pasalnya, memasuki musim penghujan, cuaca akhir-akhir ini mulai kurang bersahabat, sehingga para nelayan harus mempertimbangkan dengan matang jika ingin turun untuk melaut.

“Pemerintah daerah wajib untuk selalu mengingatkan akan bahaya yang sewaktu-waktu bisa menimpa masyarakat nelayan. Karena, akhir-akhir ini cuaca alam semakin tidak menentu,” ujarnya.

Menurutnya, beberapa bulan kedepan ini diprediksi cuaca alam semakin tidak menentu, sehingga hujan deras disertai angin kencang, serta gelombang pasang akan datang kapan saja. Sehingga akan menghantam apa saja yang berada di lautan.

“Begitu juga kepada warga yang tinggal di pesisir pantai, bantaran sungai serta masyarakat yang tinggal di kaki gunung harus tetap waspada terhadap bencana banjir dan longsor. Kami saat ini terus melakukan pemantauan di titik-titik rawan bencana, agar sebelum terjadi sudah bisa diantisipasi terlebih dahulu,” tandasnya.(dav)

AMURANG, (manadoterkini.com) – Musim kemarau yang berkepanjangan ini ternyata telah membuat ribuan hektar lahan perkebunan yang ditanami cengkih dan kelapa yang mengalami kekeringan dan hangus terbakar.

Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) saat ini sudah ada sekitar 3.353 Hektar lahan perkebunan, khususnya cengkih dan kelapa di Minsel yang terbakar dan kering.

Kepala BPBD Minsel Handry Allo Komaling kepada manadoterkini.com, pendataan yang dilakukan pihaknya berdasarkan pada laporan Pemerintah Desa/Kelurahan dan Kecamatan, serta instansi terkait. “Jadi dalam hal ini, Pemerintah Desa/kelurahan dan Kecamatan, serta instansi terkait seperti Dinas Perkebunan yang menyusun total kerugian akibat kebakaran dan kekeringan,” katanya.

Lebih lanjut, mantan Kakan KPKP ini mengatakan, pihaknya nantinya akan melaporkan dampak kerugian akibat kebakaran dan kekeringan ke BPBD Propinsi dan BNPB pusat. “Hal ini agar adanya bantuan dari Propinsi dan Pemerintah Pusat. Selain itu, kami juga akan berupaya mengajukan permohonan bantuan berupa sumur bor untuk warga yang bermukim di wilayah krisis air bersih,” ujarnya lagi.

Dia juga berharap, situasi Kabupaten Minsel yang masuk darurat kekeringan, kebakaran lahan dan hutan, kiranya bisa menjadi perhatian seluruh masyarakat untuk tetap waspada dan tidak bertindak ceroboh membakar sesuatu tanpa diawasi yang berdampak buruk. “Bupati Minsel sudah menginstruksikan kami untuk cepat tanggap dalam merespons bencana. Untuk itu, diharapkan bagi pemerintah desa dan kelurahan yang memiliki lahan terbakar ataupun kering akibat kemaru bisa melaporkan dengan segera ke pihak kami agar bisa diupayakan untuk mendapatkan bantuan,” tandasnya.(dav)