Manado Gagal Riah Adipura, Tugas ROR Selama Ini Apa?

Roring
Penjabat Walikota Royke Roring dengan latar belakang deretan penghargaan Adipura hasil kerja keras Walikota GS Vicky Lumentut.(ft.humas)

MTerkini.com, MANADO – Tahun 2016 ini dipastikan Kota Manado tidak mendapatkan Adipura. Tak ayal, ini pertama kali dalam 9 tahun terakhir Manado tidak dinilai dalam P2 karena telah jatuh di P1.

Pelak saja impian masyarakat Kota Manado sebagai Kota Adipura harus kandas, karena Penjabat Walikota Manado Royke Roring tidak fokus membenahi Tampat Pembuangan Akhir (TPA) Sumompo, mengingat Kementerian Lingkungan baru-baru ini melakukan penilaian pertama (P1) dan hasilnya Manado tidak memenuhi kriteria.

“Ini akibat kurang tanggapnya penjabat Walikota Manado Royke Roring membenahi Kota yang selama ini Kota Adipura. ROR terlalu sibuk memikirkan rolling pejabat,” ungkap pemerhati lingkungan Jekson Sulangi SH kepada manadoterkini.com.

Sulangi pun menyindir anggaran di Dinas Kebersihan dan Pertamanan yang terbilang fantastis. “Setahu saya Walikota sebelumnya telah menganggarkan anggaran pembenahan TPA tidak sedikit. Bahkan informasi yang saya dapat anggaran di Dinas tersebut sangat fantastis, kurang lebih 40 sekina miliar. Perlu ditindaklanjuti kemana saja anggaran yang di Dinas tersebut,” sindirnya.

Senada diungkapkan Widdy Rorimpandey SP MPD, kepada manadoterkini.com, kegagalan ROR menjabat Walikota Manado jelas saja berdampak terhadap Walikota Definitif yang akan dilantik dalam waktu dekat ini.

“Banyak persoalan yang ditinggalkan Penjabat Walikota kepada Walikota dan Wakil Walikota terpilih. Jangan sampai masalah yang ditinggalkan ini menjadi batu sandungan kedepan. Warga Manado harus cerdas menilai. Karena pastinya untuk meraih Adipura, Kota Manado harus memulai dari awal lagi,” ungkap Rorimpandey.

Terkait gagalnya Kota Manado dalam penilaian P1, dibenarkan Kadis Kebersihan dan Pertamanan Kota Manado Maximilianus Tatahede. Menurut dia, Kota Manado sudah gagal pada P1, yang disebabkan kondisi tempat pembuangan akhir (TPA) yang menurut tim penilai tidak memenuhi standar sistem pengelolaan ramah lingkungan.

“Iya memang kita jatuh pada kondisi TPA. Tim penilai mendapati kondisi TPA sangat amburadul,” ujar Tatahede.

Dia mengungkapkan, seharusnya sistem pengelolaan sampah di TPA idealnya harus dilakukan controlled landfill, di mana setiap sampah yang masuk ke TPA diratakan dan dipadatkan, kemudian ditimbun dengan tanah.

“Nah inilah yang saat penilaian TPA belum dilakukan akibat keterbatasan,” ujar Tatahede yang baru satu bulan dipercayakan sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan.

Meski gagal merebut kembali Piala Adipura tahun ini, dia tetap memastikan jika jajarannya tetap berusaha memaksimalkan kinerjanya untuk menjaga kebersihan Kota Manado.

Dia bahkan meyakini jika hasil ini akan jadi pelecut semangat jajarannya untuk bekerja lebih maksimal. “Masalah kebersihan menjadi hal yang wajib, bukan saja di saat akan meraih Piala Adipura saja,” tegasnya.

Adapun langkah pembenahan yang dilakukan pihaknya yakni, memperbaiki sistem pengelolaan TPA dengan lebih profesional. “Dengan prinsip-prinsip ramah lingkungan, serta ikut memperhatikan kesejahteraan para buruh sampah di Kota Manado sebagai ujung tombak kebersihan lingkungan. Selain itu, kita benahi juga manajemen pengelolaan hingga perangkat kebersihan yang juga harus diperhatikan,” pungkasnya.(ald)

TENGA, (manadoterkini.com)-Perusahan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang ber lokasi di Desa Tawaang Timur, Kecamatan Tenga diduga tidak mengantongi ijin limbah dan pemanfaatannya.

Kepala Kantor Lingkungan Hidup Minsel, Ben L Polii ketika dikonfirmasi manadoterkini.com menjelaskan untuk ijin lingkungan dari PLTU sudah ada, namun untuk ijin Tempat penyimpanan sementara (TPs) belum ada, dan ijin tersebut harus di buat di Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) atau wilayah dimana perusahaan berdiri. “Karena sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) No 101 tentang pengelolah limbah bahan berbahaya dan beracun harus membuat ijin tersebut,”kata Polii.

Lebih lanjut, Polii mengatakan, PLTU juga seharusnya mempunyai ijin dari Kementerian Lingkungan Hidup lewat ijin Pemanfaatan, sebab ijin tersebut memberikan jangka waktu penampungan limbah selama satu tahun. “Jadi limbah tersebut harus di angkat tidak boleh ditampung, lebih baik lagi kalau ada pihak ketiga yang ingin mengelola limbah tersebut, disertai dengan ijin pengelolaan limbah. Informasih yang ada pihak PLTU sementara dalam proses pembuatan ijin,” jelasnya.(dav)

Terima Penghargaan Adiwiyata, Empat Sekolah Harumkan Tomohon di Tingkat Nasional

tomohon
Jimmy Eman

TOMOHON, (manadoterkini.com)-Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia memberikan penghargaan kepada sekolah berbudaya lingkungan melalui Program Adiwiyata. Seperti yang tertuang dalam Keputusan Menteri LH dan Kehutanan RI Nomor 183 Tahun 2014 tentang Penerima Penghargaan Sekolah Adiwiyata Nasional 2014.

Untuk Kota Tomohon sendiri berhasil menempatkan empat sekolah dalam penghargaan ini. Keempat sekolah yang ditetapkan 10 Desember 2014 di Jakarta sebagai peraih Adiwiyata yang mengharumkan Kota Tomohon di tingkat Nasional yaitu SD Inpres Tumatangtang dengan kepala Sekolah Grace Wuwung, S.Pd, SMP Negeri I Tomohon yang di kepalai Drs Jantje Mangorek, SMP Negeri III Tomohon dengan kepala sekolah Aneke Lantang S.Pd dan SMA Negeri I Tomohon dengan Kepala Sekolah Dra Meyta Tambengi, MM. “Sukses keempat sekolah dalam merebut penghargaan Adwiyata Nasional ini, merupakan bukti nyata program sekolah berwawasan lingkungan hidup di kota ini berjalan dengan baik dan akan terus ditingkatkan, sekaligus memberi contoh bagi sekolah-sekolah lainnya” kata Kadis Dikda DR.Juliana D.Karwur M.Kes,MSi kepada manadoterkini.com Senin (15/12) kemarin.

Sementara itu, Walikota Jimmy F Eman,SE.Ak memberikan ucapan selamat sekaligus memberikan apresiasi kepada keempat sekolah yang kembali mengharumkan Kota Tomohon. “Semoga capaian ini dapat menjembatani Kota Tomohon untuk kembali meraih piala Adipura yang sangat diharapkan oleh pemerintah dan masyarakat. Seiring dengan upaya terus menjaga melestarikan alam dan lingkungan bagi keamanan dan kesejahteraan rakyat,” ujarnya.

Lanjut Eman mengatakan bahwa, melalui keberhasilan ini diharapkan agar peran kepala-kepala sekolah yang mendapatkan penghargaan ini untuk mempresentasikan di depan kepala sekolah, jajaran Dikda dan Badan Lingkungan Hidup, serta stakeholder lainnya di Kota Tomohon, seperti apa-apa saja usaha-usaha yang dilakukan keempat sekolah ini dalam meraih Adiwiyata Mandiri.

Dengan keberhasilan ini, Walikota Tomohon bersama para kepala sekolah peraih Adiwiyata dijadwalkan akan menerima penghargaan di Jakarta yang akan diserahkan Presiden atau Menteri pada tanggal 22 Desember 2014 nanti bersama dengan Kabupaten dan Kota lainnya yang meraih predikat ini. “Penghargaan ini merupakan penghargaan pemerintah kepada sekolah yang berjasa dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup dan telah memenuhi persyaratan sesuai permen LH No. 05 Tahun 2013 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Adiwiyata Nasional,” tandasnya.(fbi)

GSVL Buka Evaluasi Kualitas Udara Perkotaan Tahun 2014 di Manado

WALIKOTA Manado, DR. Ir. G. S. Vicky Lumentut, SH. M.Si. DEA, Rabu (26/11) membuka kegiatan asistensi hasil evaluasi kualitas udara perkotaan tahun 2014 yang merupakan hajatan Kementerian Lingkungan Hidup di Hotel Sintesa Peninsula, Manado. Walikota GSVL menyambut baik atas terselenggaranya pelaksanaan kegiatan tersebut.

manado
Walikota GSVL membuka asistensi evealuasi kualitas udara perkotaan

“Saya menyambut baik pelaksanaan kegiatan ini, dimana sebagai bentuk kepedulian kita sekalian akan kondisi kualitas udara,” ujar Walikota visioner ini.

Pada kesempatan tersebut Walikota menjelaskan bahwa Pemerintah kota terus berupaya menekan tingkat pencemaran udara di kota Manado. “Bagi pemerintah kota Manado upaya-upaya untuk mengurangi pencemaran udara terus dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak terkait. Hal ini dapat dibuktikan dengan prestasi yang diperoleh kota Manado yaitu penghargaan langit biru tahun 2012 dan 2013 yang merupakan program dari Kementerian Lingkungan Hidup. Dimana program ini adalah upaya pemerintah guna mendorong menekan tingkat pencemaran udara yang bersumber dari kendaraan bermotor melalui penerapan transportasi berkelanjutan,” jelas Walikota.

manadomanado

Walikota berharap melalui pertemuan ini, dapat menghasilkan output yang baik. “Saya berharap melalui pertemuan asistensi hasil evaluasi kualitas udara perkotaan untuk kegiatan pemantauan uji emisi kendaraan bermotor, kinerja lalu lintas dan kualitas udara jalan raya roadside, dapat menghasilkan output yang baik bagi penataan dan pemecahan masalah kualitas udara di kota Manado, sehingga akan lahir solusi yang terbaik bagi kita,” harap Walikota.

manadomanado

Tampak hadir dalam acara tersebut, antara lain Asdep pengendalian pencemaran udara sumber bergerak, Dasrul Chaniago, Kepala BLH provinsi Sulut, Edwin Silangen, Kepala BLH kota Manado, Herry Saptono, Pakar transportasi ITB, Prof. Ofyar Z Tamin dan Prof. Ade Safrudin, Pakar udara ITB, Driejana, Phd dan Dr. Kania Dewi.(advetorial/medco/ald)