Berita PilihanManado

Kehadiran KM Chantika Lestari 9F Rute Manado-Ambon, Ada Apa Dengan KSOP Manado

×

Kehadiran KM Chantika Lestari 9F Rute Manado-Ambon, Ada Apa Dengan KSOP Manado

Sebarkan artikel ini

manadoterkini.com, MANADO – Rencana kehadiran kapal KM Chantika Lestari 9F milik PT Pelayaran Dharma Indah Senin pekan depan di Pelabuhan Manado mendapat penolakan. Ada apa dengan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Manado?

Pasalnya, ada yang janggal akan kehadiran KM Chantika Lestari 9F dengan rute dari Pelabuhan Manado, Sofifi, Ternate, Kawasi, Buano dan Ambon, mengingat Kondisi Penumpang mengalami penurunan.

Tidak heran Ridwan Fallugah selaku Humas PT Surya Pacifik Indonesia (SPI) mempertanyakan hal ini kepada Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Manado. Pasalnya rute tersebut adalah rute dari Kapal mereka KM Venecian.

“Kami merasa keberatan akan kehadiran kapal KM Chantika Lestari 9F. Jelas sangat merugikan kami sebagai perusahaan pelayaran lokal yang telah beroperasi selama belasan tahun di Pelabuhan Manado,” ujar Ridwan.

Apalagi, kata Ridwan pihaknya telah menghadap KSOP Manado, meminta menjnjau kembali akan keberadaan KM Chantika Lestari 9F.

“Kalau itu diijinkan dengan waktu dan rute yang sama, akan menyebabkan perusahaan pelayaran akan colaps dan bangkrut. Karena kondisi penumpang sangat minim untuk rute itu,” urainya.

Menyikapi ijin yang telah dikeluarkan, Ridwan mendesak pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Perhubungan Provinsi serta KSOP juga serta pihak Pelindo selaku operator pelabuhan untuk mengevaluasi izin operasi KM Chantika Lestari 9F.

“Kami meminta agar proses pemberian izin dilakukan secara transparan dan mempertimbangkan dampak sosial ekonomi bagi Perusahaan Pelayaran Lokal,” tukasnya.

Ia menegaskan agar KSOP Manado, agar kembali mengevaluasi pengoperasian KM Chantika Lestari9F, yang akan mulai beroperasi pada Senin pekan depan.

“Jangan sampai kebijakan sepihak menimbulkan gejolak yang merugikan banyak pihak. Khususnya kami perusahaan pelayaran lokal,”tegasnya.

Ridwan menilai  bahwa solusi peningkatan konektivitas seharusnya dilakukan dengan memberdayakan kapal-kapal lokal yang telah ada.

“Bukan dengan menghadirkan kapal baru yang justru mempersempit ruang usaha bagi kami pelaku usaha pelayaran lokal,” tandasnya.

Situasi ini menjadi sorotan penting dalam pengelolaan sektor transportasi laut di wilayah timur Indonesia.

Penolakan terhadap KM Chantika LESTARI 9F ini mencerminkan pentingnya perlindungan terhadap pelaku usaha lokal, serta perlunya kebijakan transportasi yang adil, transparan, dan berpihak pada pengembangan ekonomi daerah.

Ketua Asosiasi PPBMI wilayah Sulut, Richard Onggi menyebutkan kehadiran KM Chantika LESTARI 9F, berpotensi menimbulkan persaingan tidak sehat dengan pengusaha lokal yang telah lama berkontribusi terhadap perekonomian daerah.

“Kami tidak menolak investasi, tapi harus ada keadilan dan perlindungan terhadap pelaku usaha lokal. Karena kehadiran kapal Chantika Lestari 9F bisa mematikan usaha pelayaran di kota Manado, ” ujarnya.

Dari sisi tenaga kerja bongkar muat di Pelabuhan Manado, Onggi menegaskan dapat berpotensi pada kecelakaan.

Apalagi saat ini sudah ada tiga kapal yang melayani rute dari Manado ke Ambon dihari yang sama.

“Jika ditambah lagi dengan KM Chantika Lestari 9F, berarti sudah ada 4 Kapal melayani pelayaran dihari dan rute yang sama,”tukasnya.

Lanjut dia, dengan kondisi pelabuhan Manado saat ini, 4 Kapal ini akan saling tendreng.

“Nah potensi terjadinya kecelakaan kerja bagi para pekerja buruh bongkar muat,” terangnya.(ald)