Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Minahasa Utara

Antili: Makna Hari Raya Ketupat Untuk Mempererat Tali Silaturahmi

×

Antili: Makna Hari Raya Ketupat Untuk Mempererat Tali Silaturahmi

Sebarkan artikel ini

minutmanadoterkini.com, AIRMADIDI – Perayaan Hari Raya Ketupat yang dilaksanakan setelah perayaan Hari Raya Idul Fitri, menjadi budaya tersendiri bagi masyarakat Muslim, yang terus lestari dan tak lekang oleh waktu. Salah satunya masyarakat Muslim Desa Likupang II Kecamatan Likupang Timur (Liktim), Kabupaten Minahasa Utara (Minut), yang menggelarnya pada Rabu (5/7/2017).

“Memang agak berbeda dengan masyarakat Muslim dari daerah lain, yang menggelar Hari Raya Ketupat pada hari ke-7 setelah Idul Fitri. Di Desa Likupang II ini, kami menggelarnya pada hari ke-10 setelah Idul Fitri. Dan makna dari Hari Raya Ketupat adalah untuk menjaga dan mempererat tali silaturahmi dengan keluarga, kerabat dan sahabat,” ungkap Hj Sarhan Antili, yang adalah Anggota DPRD Minut.

Dijelaskannya lagi, Hari Raya Ketupat dilaksanakan untuk mempertemukan keluuarga, kerabat dan sahabat yang tidak bersama-sama saat merayakan Idul Fitri. Sehingga hari tersebut menjadi hari untuk berkumpul atau bertemu kembali.

“Biasanya saat Idul Fitri, ada yang pulang ke kampung asalnya, atau merayakan dengan keluarga di tempat lain, sehingga tidak dapat merayakan atau bertemu dengan keluarga yang lainya, dengan kerabat serta sahabat lainnya, sehingga Hari Raya Ketupat ini menjadi hari untuk bersilaturahmi,” jelas Antili, kepada manadoterkini.com.

Dari pantauan, manadoterkini.com, perayaan Hari Raya Ketupat di Desa Likupang II, sangat ramai dengan tamu-tamu dari luar desa yang datang bersilahturahmi. Tak hanya masyarakat Muslim saja, namun banyak juga tamu-tamu non Muslim yang datang untuk bersilaturahmi, sehingga kebersamaan dan kekeluargaan dapat terlihat jelas dari perayaan tersebut.(Pow)