
manadoterkini.com, SULUT – Terik matahari mulai menyengat halaman Kantor Gubernur Sulawesi Utara, Rabu pagi, 20 Mei 2026. Barisan peserta upacara berdiri tegak memandang Sang Merah Putih yang perlahan naik diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Di tengah suasana khidmat peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118 itu, ada satu hal yang menarik perhatian Wakil Gubernur Sulawesi Utara, Victor Mailangkay: wajah-wajah generasi penerus bangsa.
Bagi Victor, momen Harkitnas bukan sekadar agenda tahunan yang dipenuhi seremoni dan pidato resmi. Di balik upacara yang berlangsung di halaman Kantor Gubernur Sulut itu, ia melihat makna yang lebih dalam tentang bagaimana bangsa ini sedang menghadapi tantangan zaman yang terus berubah.
“Momentum seperti itu selalu mengingatkan saya bahwa rasa cinta kepada bangsa terkadang hadir dari hal-hal sederhana,” ujar Victor usai upacara.
Pada upacara tersebut, Victor Mailangkay bertindak sebagai inspektur upacara. Sementara Kepala Bidang Kominfo Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik Sulut, Clief Wangke, dipercaya menjadi komandan upacara.
Hadir pula Sekretaris Daerah Provinsi Sulut Tahlis Gallang, jajaran pejabat tinggi pratama, pejabat fungsional ahli utama, tenaga ahli, hingga ASN di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara.
Dalam amanatnya, Victor membacakan sambutan Menteri Komunikasi dan Digital RI, Meutya Hafid. Pesan utama yang disampaikan menyoroti pentingnya menjaga tunas bangsa di tengah derasnya perkembangan teknologi dan transformasi digital.
Namun bagi Victor, kalimat tersebut memiliki makna yang jauh lebih luas.
Menurutnya, menjaga bangsa hari ini bukan lagi hanya soal mempertahankan batas wilayah atau kedaulatan negara secara fisik. Tantangan terbesar justru hadir dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam membentuk pola pikir dan karakter generasi muda yang tumbuh di era digital.
Ia menilai anak-anak saat ini hidup di tengah arus informasi yang bergerak sangat cepat. Di ruang digital, batas antara hal positif dan negatif semakin tipis.

Teknologi dapat menjadi alat untuk belajar dan berkembang, tetapi di saat yang sama juga dapat menyeret generasi muda pada pengaruh yang salah jika tidak dibarengi pengawasan dan pendidikan karakter.
“Mewakili Bapak Gubernur Yulius Selvanus, saya membacakan sambutan Menteri Komunikasi dan Digital RI, Ibu Meutya Hafid, tentang pentingnya menjaga tunas bangsa demi kedaulatan negara. Bagi saya, kalimat itu sederhana tetapi sangat dalam maknanya,” katanya.
Victor berharap anak-anak Sulawesi Utara dapat tumbuh di lingkungan yang sehat, memperoleh pendidikan yang baik, dan tetap memiliki keberanian untuk bermimpi tanpa kehilangan arah di tengah perkembangan dunia digital.
Di tengah refleksinya tentang kebangkitan nasional, Victor juga menyinggung bahwa semangat membangun bangsa sebenarnya lahir dari keseharian masyarakat.
Ia percaya kebangkitan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar atau pidato yang megah, melainkan dari perjuangan kecil yang dilakukan dengan tulus setiap hari.
Semangat itu, menurutnya, hadir dari orang tua yang terus bekerja keras demi pendidikan anak-anak mereka. Hadir dari guru yang tetap mengajar dengan hati. Hadir dari petani yang sejak pagi turun ke ladang, nelayan yang melaut, hingga anak-anak muda yang memilih menggunakan teknologi untuk hal-hal yang bermanfaat.
“Kadang dimulai dari orang tua yang terus berjuang menyekolahkan anaknya, guru yang tetap mengajar dengan tulus, petani yang bekerja sejak pagi, nelayan yang tetap melaut, atau anak muda yang memilih menggunakan teknologi untuk hal-hal baik,” ungkap Victor.
Di akhir pernyataannya, ia mengajak masyarakat Sulawesi Utara untuk terus menjaga persatuan dan memperkuat kepedulian sosial di tengah kehidupan bermasyarakat yang semakin dinamis.
Bagi Victor Mailangkay, Hari Kebangkitan Nasional bukan hanya tentang mengenang sejarah lahirnya Boedi Oetomo. Lebih dari itu, Harkitnas menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa sedang dibentuk hari ini — melalui keluarga, pendidikan, teknologi, dan karakter generasi mudanya. (***/ald)





