manadoterkini.com, MANADO – Di tengah pujian dan apresiasi warga akan Pembangunan infrastruktur Kota Manado, ternyata menyimpan sejumlah persoalan yang harus menjadi perhatian Wali Kota Andrei Angouw dan Wawali Richard Sualang. Air bersih yang merupakan program prioritas utama di tahun 2025 dinilai gagal.
Pasalnya, segudang persoalan yang menyelimuti Perumda Air Minum Wanua Wenang menjadi perhatian serius yang harus ditelisik lebih jauh oleh AA-RS. Dimana bukan hanya persoalan pelayanan air bersih di Ibukota Provinsi Sulawesi Utara, tapi dugaan korupsi di perusahan plat merah ini tengah menjadi sorotan public.
Bahkan sejumlah dugaan korupsi dilakukan berjemaah di Perumda Air Minum Wanua Wenang ini sudah menjadi atensi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dikarenakan, kuat duggaan keterlibatan Aparat Penegak Hukum (APH) dalam setiap persoalan yang ada.
Belum lagi, akibat dari persoalan yang ada di Perumda PDAM Manado yang dipimpin Direktur Meiky Taliwuna SE MM sangat berdampak terhadap kepemimpinan Wali Kota Andrei Angouw.
Tidak heran, ketika ada persoalan di Perumda Air Minum Wanua Wenang nama Wali Kota Manado Andrei Angouw ikut menjadi sorotan warga, karena terkesan ada pembiaran.
Terkini, pelayanan air bersih di awal tahun baru 2026 harusnya menjadi harapan menjadi kekecewaan bagi warga Kota Manado. Apalagi air bersih merupakan kebutuhan paling mendasar warga.
Ironinya, ternyata sejumlah wilayah sudah empat hari di akhir Tahun 2025 air sudah tidak mengalir. Tidak heran kondisi ini memicu kemarahan public yang tuangkan lewat media sosial.
Sejumlah unggahan di Facebook terutama di grup Kawal Pemerintahan AA-RS menyuarakan keresahan yang sama yakni air mati berhari-hari, distribusi tidak stabil sepanjang Desember, hingga sindiran bahwa “kado” Tahun Baru 2026 justru berupa krisis air.
Keluhan itu bukan hanya ditujukan kepada PDAM, tetapi ikut menyeret pimpinan daerah. Warganet menilai buruknya layanan PDAM berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap komitmen Pemkot Manado dalam menghadirkan pelayanan dasar yang layak.
Karena pelayanan air bersih dinilai bukan sekedar masalah teknis, melainkan cerminan lemahnya manajemen perusahaan pelat merah milik Pemkot Manado.
Makanya, air bersih yang menjadi salah satu program unggulan AARS terancam gagal akibat ulah manajeman yang tidak becus. Mengingat tahun 2025 lalu, air bersih menjadi program utama pemerintahan AARS namun ternyata gatot alias gagal total.
Aktivis Sulawesi Utara, Iwan Aloysius Moniaga turut menyoroti sejumlah persoalan yang menyelimuti Perumda Air Minum Wanua Wenang, sehingga meminta Wali Kota Manado Andrei Angouw sebagai Kuasa Pemilik Modal (KPM) segera turun tangan.
“Kalau dibiarkan, program prioritas AA-RS hanya akan menjadi slogan. Jajak digital tahun 2025 lalu air bersih menajdi program prioritas utama AARS, tapi masyarakat tidak menikmatinya. Ini sama dengan menampar muka pimpinan. Penyaluran air bersih tidak akan pernah dinikmati secara utuh oleh masyarakat jika kinerja PDAM tidak dibenahi. Evaluasi Dirut PDAM adalah keharusan,” tegas Moniaga.
Lebih jauh, Moniaga mengingatkan bahwa persoalan PDAM Wanua Wenang bukan hanya soal layanan. Ia menyebut adanya dugaan tindak pidana korupsi di tubuh PDAM yang telah dilaporkannya sejak 2025 dan kini masuk dalam daftar penanganan prioritas Kejaksaan Negeri Manado.
“Dalam laporan itu, nama Dirut PDAM pasti ikut terseret. Saya akan terus mengawal kasus ini sampai jelas siapa yang harus bertanggung jawab atas dugaan penyalahgunaan keuangan perusahaan,” ujarnya.
Mantan Presidium GMNI tersebut juga mengungkap temuan dari Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) 2025, yang memuat Tuntutan Ganti Rugi (TGR) terhadap pimpinan dan sejumlah karyawan PDAM.
“TGR itu informasinya sangat valid. Tapi perlu diingat, membayar TGR tidak otomatis menghapus unsur pidana. Kami sedang mengumpulkan bukti tambahan dan akan menyerahkannya ke Aparat Penegak Hukum, termasuk Kejati Sulut,” katanya.
Moniaga kembali menekankan, pembiaran terhadap persoalan PDAM Wanua Wenang berisiko besar bagi citra kepemimpinan AA-RS.
“Jika manajemen PDAM yang tidak becus ini terus dipertahankan, maka program-program pro rakyat akan rusak dari dalam. Air bersih adalah wajah pelayanan publik. Ketika itu gagal, kepercayaan masyarakat ikut runtuh,” pungkasnya. (*/ald)





