manadoterkini.com, MANADO – Dinas Pendidikan Kota Manado kembali menjadi sorotan. Tahun 2026 ini, Kota Manado dipastikan tidak ambil bagian dalam ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), sebuah kompetisi tahunan yang selama ini menjadi panggung bagi siswa-siswa berbakat untuk mengukir prestasi olahraga hingga tingkat nasional.
Keputusan tersebut sontak memicu polemik dan kekecewaan di kalangan siswa, pelatih, hingga pemerhati olahraga di Sulawesi Utara. Banyak yang menilai absennya Manado bukan sekadar persoalan teknis jadwal, melainkan bentuk pengabaian terhadap pembinaan atlet pelajar.
Di sejumlah sekolah, rasa kecewa itu terasa nyata. Beberapa siswa yang sejak awal tahun rutin berlatih kini harus menerima kenyataan bahwa kesempatan membawa nama Manado ke tingkat provinsi bahkan nasional sirna begitu saja.
“Anak-anak sudah latihan jauh hari. Mereka punya semangat besar karena berharap bisa ikut O2SN. Tapi tiba-tiba Manado tidak ikut. Ini sangat disayangkan,” ujar salah satu pelatih cabang olahraga tingkat SMP di Manado.
Selama bertahun-tahun, O2SN dikenal bukan sekadar lomba olahraga biasa. Ajang ini menjadi ruang pembinaan karakter, disiplin, sportivitas, dan pencarian bibit atlet usia dini. Dari kompetisi inilah banyak atlet muda daerah lahir dan berkembang.
Ironisnya, saat daerah lain di Sulawesi Utara tetap menggelar seleksi dan mengirim peserta, Manado justru memilih absen. Kabupaten-kabupaten lain bahkan sejak Maret telah mempersiapkan atlet melalui seleksi tingkat kecamatan hingga kabupaten.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Manado, Bart Assa, berdalih padatnya agenda akademik menjadi penyebab utama sulitnya pelaksanaan seleksi O2SN tahun ini.
Menurutnya, sekolah-sekolah tengah disibukkan dengan Tes Kompetensi Akademik, asesmen sumatif, penguatan literasi dan numerasi, hingga persiapan Olimpiade Sains Nasional (OSN).
Namun alasan itu justru memantik kritik lebih keras. Banyak pihak mempertanyakan mengapa olahraga dan akademik seolah ditempatkan saling berhadapan, padahal keduanya merupakan bagian penting dalam pendidikan siswa.
“Kalau alasannya sibuk akademik, lalu bagaimana dengan pembinaan karakter dan prestasi olahraga? Jangan sampai pendidikan hanya mengejar angka-angka akademik tapi mengorbankan bakat siswa,” kata seorang pemerhati olahraga di Manado.
Polemik ini semakin tajam karena publik menilai Manado sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Utara semestinya menjadi contoh dalam pembinaan olahraga pelajar, bukan malah absen dalam agenda nasional.
Beberapa ketua cabang olahraga bahkan menyebut keputusan tersebut sebagai tamparan bagi atlet muda yang selama ini berlatih dengan harapan bisa tampil di tingkat nasional.
“Anak-anak sudah siap bertanding. Mereka latihan bukan sehari dua hari. Ini bukan sekadar lomba, tapi soal masa depan dan kesempatan mereka,” ujar salah satu pengurus cabang olahraga dengan nada kecewa.
Sorotan juga mengarah pada amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan yang menegaskan pentingnya pembinaan olahraga pendidikan dan olahraga prestasi oleh pemerintah daerah.
Bagi banyak pihak, absennya Manado di O2SN menjadi simbol bagaimana olahraga pelajar belum sepenuhnya dipandang sebagai prioritas dalam sistem pendidikan daerah.
Kini, yang tersisa hanyalah kekecewaan para siswa yang gagal tampil, para pelatih yang merasa perjuangannya sia-sia, dan pertanyaan besar publik: apakah prestasi olahraga pelajar di Manado memang tidak lagi dianggap penting?
(***/ald)





