Polsek Malalayang Berhasil Amankan  681.5 Liter Captikus

manado
Barang bukti miras diamankan di Polsek Malalayang, kemarin.

manadoterkini.com, MANADO – Demi mengurangi gangguan kamtibmas di wilayahnya. Kepolisian Sektor (Polsek) Malalayang berhasil mengamankan 681.5 liter captikus. Barang bukti (Babuk) minuman keras (Miras) itu diamankan di salah satu rumah penduduk di Kelurahan Malalayang Dua, Lingkungan I, Kecamatan Malalayang, sekira pukul 21.00 Wita, Senin (3/9) kemarin.

Dari informasi yang dirangkum, awalnya anggota Polsek Malalayang mendapat informasi dari masyarakat dimana di salah satu rumah tersebut sering menjual minuman keras merek captikus.

“Berdasarkan hal tersebut, maka anggota dari tim resmob Polsek Malalayang segera meluncur ke tempat kejadian perkara (TKP). Sesampai di TKP, benar saja didapati miras merek captikus dijual tanpa ijin. Sehingga kami langsung amankan,” ujar Kapolsek Malalayang Kompol Elia Maramis, Selasa (4/9) kemarin.

Ditambahkan mantan Kasat Narkoba ini, babuk miras itu diketahui milik JM alias Joice (38) warga Desa Mariri Lama, Kecamatan Poigar.”Pemilik minuman keras tersebut telah kami amankan bersama barang bukti untuk di proses sesuai hukum berlaku,” ungkapnya.

KDP : Cap Tikus Bisa Menghasilkan SDM Handal

KDPMTerkini.com, Sulut – Saat ini Rancangan Undang-Undang (RUU) minuman beralkohol sementara di bahas oleh DPR RI, Wakil Ketua Komisi I DPRD Sulut Kristovorus Decky Palinggi (KDP) menegaskan bahwa Komisi I DPRD Sulut sangat mendukung RUU tersebut.

KDP yang diwawancarai oleh sejumlah wartawan yang ada di DPRD Sulut mengatakan bahwa, pada dasarnya pemerintah menginginkan kearifan lokal budaya Minahasa terus dipertahankan, yang mana salah satunya adalah produksi minuman beralkohol yang dikenal dengan nama Cap Tikus (CT).

“Namun di satu sisi, dampak negatif yang ditimbulkan dari peredaran bebas Cap Tikus tetap harus dihilangkan,” ujar KDP.

Lanjut, Dikatakan KDP “Di Sulut kan terkenal dengan produksi Cap Tikus, tapi hasil dari pohon enau, tidak hanya bisa dibuat cap tikus saja, kan bisa dibuat gula merah, cuka atau lainnya. Tapi setahu saya, cap tikus ini bisa berdampak positif, karena dapat membuat Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal di Sulut, ada yang bisa menjadi Doktor, Profesor, Wartawan dari hasil penjualan cap tikus ini”.

“Namun itu ada langkah-langka pemerintah untuk bagaimana caranya agar bisa mengalihkan bahan baku cap tikus ini ke produk-produk lain,” tukasnya.

KDP juga menambahkan masalah RUU nya kami sangat mendukung, tapi kita lihat lagi situasi daerah setempat.

“Karena dari hasil cap tikus banyak orang Sulut yang sudah menjadi sukses, karena hasil jerih payah orangtua yang menjual cap tikus untuk menyekolahkan anak,” tutupnya. (Jef)