Selasa, 15 Oktober 2019

Sejarah Mulai Dilupakan, Mantan Ketua Pemuda GMIM Angkat Bicara

pemuda gmimMTerkini.com, SULUT – Sudah dari dulunya pelaksanaan Hari Ulang Tahun (HUT) Pemuda GMIM dilaksanakan pada Paskah kedua, namun sangat disayangkan pada tahun ini digeser lima hari menjadi hari Sabtu dan ini langsung mengundang perhatian tokoh pemuda GMIM.

“Apapun alasannya, Pemuda GMIM jangan melupakan sejarah. Pemuda dan remaja memiliki histori tersendiri dan perayaan ulang tahun nya pun berbeda, apalagi remaja memiliki hari persatuan remaja. Coba saja kalau HUT Sinode GMIM perayaan dirubah tanggalnya, atau Natal digeser Januari, ini esensi penting,” ujar kata Yobel Pandey mantan ketua wilayah.

Menurutnya, sangat bijak apabila kegiatan pemuda GMIM tetap pada tanggal dan faedahnya. “Kalau kegiatan lain menyesuaikan bisa saja, tapi HUT Pemuda GMIM itu sudah pasti di Paskah kedua, itu makanya pemuda GMIM memakai jubah ungu, jubah pengorbanan, jubah mempersatukan, jubah semangat akan iman, berkorbar karena pengorbanan Kristus,” urainya lagi.

Menurut informasi memang Komisi Pemuda Sinode kemudian menyesuaikan tanggal karena kesepakatan dengan Komisi Remaja Sinode, hal ini yang kemudian memicu kritik dimana HUT Pemuda GMIM ke 90 tahun ini harusnya jatuh pada hari Paskah kedua.

Ketua Komisi Pemuda Sinode GMIM dua periode (1995 – 2000 dan 2000 – 2005) yang kini Anggota DPD RI, Ir. Marhany Pua, MA menyesalkan perayaan HUT Pemuda GMIM tidak dilaksanakan pada Paskah kedua.

“HUT Pemuda GMIM sangat menyatu dengan perayaan Paskah kedua, itu sudah diarayakan puluhan tahun. Apabila tahun ini HUT Pemuda GMIM tidak dirayakan di Paskah kedua, perlu diluruskan. Perayaan HUT Pemuda GMIM ada dalam momentum Paskah, kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Hari kemenangan,” tegas Pua.

Senada Ketua Pemuda Sinode GMIM 2 periode 2005-2015 Pnt. Billy Lombok SH pun memberikan pendapat tajam.

“Kunci jawabannya ada pada perhatian Komisi Pemuda Sinode GMIM terhadap sejarah pemuda GMIM itu sendiri. Saya dengar sudah diputuskan lewat Sidang Sinode, padahal di momen tersebut tiap komisi diberikan kesempatan pandangan dan mempertahankan hasil konsultasi masing-masing. Sangat disayangkan apabila pemuda GMIM dalam Sidang Sinode itu tidak mengerti sejarah. Ini penting mengingat akan menjadi preseden yang di ingat oleh kader pemuda GMIM, nanti sejarah bisa bergeser, oh nda pasti kote depe tanggal dang, boleh di rubah rubah, lama-lama sejarah GMIM itu sendiri menjadi bias. Ingat GMIM itu bukan Ormas yang bisa disesuaikan sejarahnya atau organisasi yang datang tiba-tiba, ini Gereja dan Gereja harus berada pada proporsinya, sejarah jangan dirubah,” pungkas Lombok yang saat ini duduk sebagai anggota DPRD Sulut ini.(jef)

Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*