Rabu, 23 Oktober 2019

Manado Gagal Riah Adipura, Tugas ROR Selama Ini Apa?

Roring

Penjabat Walikota Royke Roring dengan latar belakang deretan penghargaan Adipura hasil kerja keras Walikota GS Vicky Lumentut.(ft.humas)

MTerkini.com, MANADO – Tahun 2016 ini dipastikan Kota Manado tidak mendapatkan Adipura. Tak ayal, ini pertama kali dalam 9 tahun terakhir Manado tidak dinilai dalam P2 karena telah jatuh di P1.

Pelak saja impian masyarakat Kota Manado sebagai Kota Adipura harus kandas, karena Penjabat Walikota Manado Royke Roring tidak fokus membenahi Tampat Pembuangan Akhir (TPA) Sumompo, mengingat Kementerian Lingkungan baru-baru ini melakukan penilaian pertama (P1) dan hasilnya Manado tidak memenuhi kriteria.

“Ini akibat kurang tanggapnya penjabat Walikota Manado Royke Roring membenahi Kota yang selama ini Kota Adipura. ROR terlalu sibuk memikirkan rolling pejabat,” ungkap pemerhati lingkungan Jekson Sulangi SH kepada manadoterkini.com.

Sulangi pun menyindir anggaran di Dinas Kebersihan dan Pertamanan yang terbilang fantastis. “Setahu saya Walikota sebelumnya telah menganggarkan anggaran pembenahan TPA tidak sedikit. Bahkan informasi yang saya dapat anggaran di Dinas tersebut sangat fantastis, kurang lebih 40 sekina miliar. Perlu ditindaklanjuti kemana saja anggaran yang di Dinas tersebut,” sindirnya.

Senada diungkapkan Widdy Rorimpandey SP MPD, kepada manadoterkini.com, kegagalan ROR menjabat Walikota Manado jelas saja berdampak terhadap Walikota Definitif yang akan dilantik dalam waktu dekat ini.

“Banyak persoalan yang ditinggalkan Penjabat Walikota kepada Walikota dan Wakil Walikota terpilih. Jangan sampai masalah yang ditinggalkan ini menjadi batu sandungan kedepan. Warga Manado harus cerdas menilai. Karena pastinya untuk meraih Adipura, Kota Manado harus memulai dari awal lagi,” ungkap Rorimpandey.

Terkait gagalnya Kota Manado dalam penilaian P1, dibenarkan Kadis Kebersihan dan Pertamanan Kota Manado Maximilianus Tatahede. Menurut dia, Kota Manado sudah gagal pada P1, yang disebabkan kondisi tempat pembuangan akhir (TPA) yang menurut tim penilai tidak memenuhi standar sistem pengelolaan ramah lingkungan.

“Iya memang kita jatuh pada kondisi TPA. Tim penilai mendapati kondisi TPA sangat amburadul,” ujar Tatahede.

Dia mengungkapkan, seharusnya sistem pengelolaan sampah di TPA idealnya harus dilakukan controlled landfill, di mana setiap sampah yang masuk ke TPA diratakan dan dipadatkan, kemudian ditimbun dengan tanah.

“Nah inilah yang saat penilaian TPA belum dilakukan akibat keterbatasan,” ujar Tatahede yang baru satu bulan dipercayakan sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan.

Meski gagal merebut kembali Piala Adipura tahun ini, dia tetap memastikan jika jajarannya tetap berusaha memaksimalkan kinerjanya untuk menjaga kebersihan Kota Manado.

Dia bahkan meyakini jika hasil ini akan jadi pelecut semangat jajarannya untuk bekerja lebih maksimal. “Masalah kebersihan menjadi hal yang wajib, bukan saja di saat akan meraih Piala Adipura saja,” tegasnya.

Adapun langkah pembenahan yang dilakukan pihaknya yakni, memperbaiki sistem pengelolaan TPA dengan lebih profesional. “Dengan prinsip-prinsip ramah lingkungan, serta ikut memperhatikan kesejahteraan para buruh sampah di Kota Manado sebagai ujung tombak kebersihan lingkungan. Selain itu, kita benahi juga manajemen pengelolaan hingga perangkat kebersihan yang juga harus diperhatikan,” pungkasnya.(ald)

Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*