Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Ekonomi dan BisnisManadoNusa Utara

PDRB Bulanan Manado Tertinggi, Talaud Masih Terendah di Sulut

×

PDRB Bulanan Manado Tertinggi, Talaud Masih Terendah di Sulut

Sebarkan artikel ini

manadomanadoterkini.com, SULUT – Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Talaud masih menjadi yang terendah se-Sulawesi Utara.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, PDRB daerah yang dipimpin Bupati Elly Engelbert Lasut berada di urutan terbawah atau peringkat 15 di kabupaten kota se Sulut.

Data BPS mencatat, PDRB per kapita atas dasar harga berlaku Talaud hanya mencapai Rp25,7 juta. Jika dibahagi 12 bulan, hanya 2,29 juta.

Sementara Kota Manado berada di ranking teratas. Pendapatan per kapita masyarakat Kota Manado rata-rata Rp. 96.600.000. Atau per bulan  Rp. 8.050.000. Ini pendapatan rata-rata. Jadi ada yang pendapatan keluarga di atas Rp 8 juta, ada juga di bawah Rp 8 juta.

Untuk provinsi Sulawesi Utara sendiri income per kapita 59,04 juta. Atau sekitar Rp4,9 juta per bulan rata-rata pendapatan setiap kepala keluarga.

Artinya, masih lebih banyak  kabupaten/kota di Sulut yang income perkapitanya di bawah provinsi. Hanya tiga daerah tingkat dua yang di atas provinsi. Yakni Kota Manado, Kota Bitung, dan Kabupaten Minahasa Utara.

Kota Bitung sendiri Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Per Kapita mencapai Rp89,7 juta. Nomor dua setelah Manado. Menyusul  nomor tiga Kabupaten Minahasa Utara. PDRB Per Kapita Minut  Rp75,1 juta.

Data inipun disayangkan oleh Barca Mohammad, Wakil Sekretaris SMSI Sulawesi Utara, menurut dia visi misi atau tujuan adanya pemerintah yakni untuk mensejahterakan rakyat, ikut dipertanyakan. Apakah betul betul dikerjakan.

Mengingat, PDRB merupakan ukuran tingkat pendapatan masyarakat. Melihat adanya daya beli dari situ, tentu, nilai ini tidak cukup untuk hidup sebulan satu keluarga.

“Artinya kepala daerah dan jajarannya betul betul ada kerja,” kata Barca Mohammad.

Menurutnya, salah satu keberhasilan kepala daerah, diukur dari kemakmuran atau tingkat kesejahteraan rakyatnya.

“Bagaimana bisa menyekolahkan anak sampai ke perguruan tinggi, kalau income per kapita atau pendapatan setiap kepala keluarga sebulan hanya 2 juta-an,” ujarnya. (*/Rizath)